Kolabo Insights

Kolabo

Manage your company in one app

Apakah Semua Keputusan Bisnis Masih Harus Lewat Owner?

Sebuah bisnis mungkin sudah memiliki tim yang lengkap. Ada bagian operasional, sales, finance, HR, hingga supervisor yang bertanggung jawab atas pekerjaan masing-masing. Secara struktur, perusahaan terlihat sudah memiliki pembagian tugas yang jelas.

Namun, dalam praktiknya, banyak keputusan masih harus menunggu persetujuan owner. Tim sales ingin memberikan diskon kepada customer, harus bertanya terlebih dahulu. Bagian operasional membutuhkan pembelian barang, menunggu konfirmasi. Supervisor ingin mengubah jadwal kerja, perlu meminta izin. Bahkan persoalan kecil yang sebenarnya dapat diselesaikan oleh tim tetap harus diteruskan kepada pemilik bisnis.

Akibatnya, pekerjaan sering tertunda bukan karena karyawan tidak mampu menyelesaikannya, tetapi karena semua orang menunggu keputusan dari satu orang yang sama.

Situasi ini menjadi semakin rumit ketika bisnis berkembang. Jumlah karyawan bertambah, aktivitas operasional semakin beragam, dan keputusan yang harus dibuat setiap hari terus meningkat. Sementara itu, waktu yang dimiliki owner tetap terbatas.

Jadi, pertanyaannya bukan hanya mengapa karyawan terus bergantung pada pemilik bisnis, tetapi mengapa perusahaan yang sudah memiliki tim masih belum bisa berjalan tanpa keterlibatan owner dalam setiap keputusan?

Ketika Owner Menjadi Pusat dari Seluruh Keputusan

Pada tahap awal membangun bisnis, keterlibatan owner dalam hampir semua aktivitas merupakan hal yang wajar. Pemilik usaha biasanya mengenal setiap proses secara langsung, mulai dari melayani customer, menentukan harga, mengelola pengeluaran, hingga mengawasi pekerjaan karyawan.

Ketika jumlah tim masih sedikit, cara kerja tersebut bahkan terasa lebih praktis. Keputusan dapat dibuat dengan cepat karena hampir seluruh informasi berada di tangan satu orang.

Namun, pola yang efektif ketika perusahaan baru memiliki beberapa karyawan belum tentu sesuai saat bisnis mulai berkembang.

Harvard Business Review membahas bagaimana pertumbuhan perusahaan dapat menimbulkan tantangan ketika pola kepemimpinan yang awalnya terpusat pada founder tidak ikut berkembang bersama organisasi. Semakin besar skala bisnis, semakin penting membangun struktur yang memungkinkan tanggung jawab dan keputusan dibagikan kepada tim.

Bayangkan sebuah bisnis yang awalnya hanya memiliki satu outlet, kemudian berkembang menjadi lima cabang. Jika setiap permintaan pembelian, penyesuaian jadwal, atau persoalan operasional masih membutuhkan persetujuan owner, jumlah keputusan yang harus ditangani akan meningkat seiring pertumbuhan perusahaan.

Pada akhirnya, owner bukan lagi hanya bertanggung jawab menentukan arah bisnis, tetapi juga harus terus menyelesaikan berbagai persoalan operasional sehari-hari.

Punya Tim Belum Tentu Berarti Sudah Membagikan Wewenang

Salah satu penyebab bisnis terus bergantung pada owner adalah perbedaan antara membagikan pekerjaan dan memberikan kewenangan.

Seorang supervisor mungkin bertanggung jawab mengawasi operasional outlet. Namun, apakah ia memiliki wewenang untuk menyelesaikan komplain customer tanpa menunggu persetujuan atasan?

Seorang sales manager mungkin ditugaskan mencapai target penjualan. Tetapi apakah ia diperbolehkan memberikan penawaran khusus dalam batas tertentu?

Begitu juga dengan bagian finance yang bertugas mengelola pengeluaran perusahaan, tetapi belum tentu memiliki kewenangan untuk menyetujui transaksi.

Ketika batas tanggung jawab tersebut tidak dijelaskan, karyawan cenderung memilih bertanya terlebih dahulu daripada mengambil risiko membuat keputusan yang dianggap salah.

Menurut Bain & Company, salah satu tantangan dalam organisasi adalah ketidakjelasan mengenai siapa yang berhak mengambil keputusan, siapa yang memberikan masukan, dan siapa yang bertanggung jawab menjalankannya.

Melalui kerangka RAPID, Bain menjelaskan pentingnya membedakan peran dalam pengambilan keputusan agar setiap proses memiliki penanggung jawab yang jelas.

Hal ini menunjukkan bahwa struktur organisasi saja belum tentu cukup. Perusahaan juga membutuhkan pembagian kewenangan yang dapat dipahami oleh setiap posisi.

Karena memberikan seseorang tanggung jawab pekerjaan tidak otomatis berarti memberinya kewenangan untuk mengambil keputusan.

Mengapa Karyawan Selalu Menunggu Arahan?

Ketergantungan terhadap owner tidak selalu terjadi karena karyawan tidak memiliki kemampuan atau inisiatif.

Dalam beberapa situasi, tim sebenarnya memahami pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi tidak mengetahui sejauh mana mereka diperbolehkan bertindak secara mandiri.

Misalnya, seorang supervisor mengetahui bahwa stok barang di outlet mulai menipis. Ia memahami kebutuhan pembelian dan memiliki informasi mengenai jumlah persediaan. Namun, karena tidak ada aturan mengenai batas pengeluaran yang boleh disetujui, seluruh permintaan tetap harus diteruskan kepada owner.

Situasi serupa juga dapat terjadi pada bagian HR, sales, hingga customer service.

Gallup menjelaskan bahwa kejelasan ekspektasi pekerjaan merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi bagaimana karyawan menjalankan tanggung jawabnya. Ketika seseorang tidak memahami apa yang diharapkan dari posisinya, hal tersebut dapat memengaruhi keterlibatan dan efektivitas kerja.

Masalahnya, pembagian tugas sering kali hanya menjelaskan pekerjaan apa yang harus diselesaikan, tanpa menetapkan keputusan apa saja yang dapat diambil oleh karyawan.

Akibatnya, setiap persoalan yang sedikit berbeda dari rutinitas akan kembali ditanyakan kepada atasan.

Jika kondisi ini terus berlangsung, perusahaan dapat membentuk kebiasaan kerja yang terlalu bergantung pada instruksi. Karyawan terbiasa menunggu, sementara owner semakin sering merasa harus turun tangan.

Terlalu Banyak Approval Bisa Menghambat Operasional

Proses persetujuan merupakan bagian penting dalam pengendalian bisnis. Perusahaan tetap membutuhkan mekanisme untuk memastikan pengeluaran, perubahan kebijakan, dan keputusan operasional dilakukan sesuai aturan.

Namun, tidak semua aktivitas memerlukan tingkat persetujuan yang sama.

Keputusan untuk membuka cabang baru tentu memiliki risiko berbeda dibanding pembelian perlengkapan kantor. Menentukan strategi harga juga tidak sama dengan menyetujui pergantian jadwal kerja.

Ketika seluruh keputusan diperlakukan dengan proses yang sama, aktivitas sederhana bisa membutuhkan waktu lebih lama daripada yang seharusnya.

Menurut McKinsey & Company, organisasi perlu membedakan keputusan berdasarkan karakteristiknya. Keputusan strategis yang memiliki risiko besar membutuhkan pertimbangan mendalam, sementara keputusan rutin dapat didelegasikan kepada individu atau tim yang paling memahami aktivitas tersebut.

McKinsey juga menemukan bahwa banyak organisasi masih menghadapi kesulitan dalam menghasilkan keputusan yang cepat dan berkualitas, terutama ketika tanggung jawab pengambilan keputusan belum dibagikan secara efektif.

Bayangkan sebuah restoran yang membutuhkan tambahan bahan baku untuk operasional harian. Jika pembelian dalam jumlah kecil tetap harus menunggu owner yang sedang menghadiri meeting, proses kerja berpotensi terganggu.

Sebaliknya, perusahaan dapat menetapkan batas tertentu agar kebutuhan rutin disetujui oleh manager, sementara transaksi dengan nilai lebih besar diteruskan kepada pihak yang memiliki kewenangan lebih tinggi.

Dengan alur yang jelas, pengawasan tetap dapat dilakukan tanpa membuat seluruh aktivitas bergantung pada satu orang.

Mengapa Owner Sulit Melepaskan Kontrol?

Ada alasan lain mengapa keputusan sering kali tetap terpusat, yaitu keinginan owner untuk memastikan seluruh pekerjaan berjalan sesuai standar.

Sebagai pemilik bisnis, owner bertanggung jawab terhadap kondisi keuangan, kualitas pelayanan, produktivitas karyawan, hingga keberlangsungan perusahaan.

Ketika sebuah keputusan berpotensi menimbulkan kerugian, keinginan untuk memeriksa setiap tindakan menjadi sesuatu yang dapat dipahami.

Namun, keterlibatan yang terlalu jauh dalam detail pekerjaan dapat berkembang menjadi micromanagement, yaitu kondisi ketika pimpinan mengawasi atau mengendalikan pekerjaan tim secara berlebihan.

Misalnya, seorang manager sudah diberikan tanggung jawab mengelola operasional cabang. Namun, setiap keputusan kecil tetap diperiksa dan terkadang diubah langsung oleh owner.

Lama-kelamaan, manager mungkin merasa bahwa mengambil inisiatif tidak banyak membantu karena keputusan akhirnya tetap berada di tangan pemilik bisnis.

McKinsey menjelaskan bahwa pemberdayaan karyawan tidak berarti pimpinan harus membiarkan tim bekerja tanpa arahan. Delegasi yang efektif tetap membutuhkan coaching, dukungan, serta batas tanggung jawab yang jelas.

Artinya, memberikan kewenangan bukan berarti owner kehilangan kontrol terhadap perusahaan.

Yang perlu berubah adalah cara pengawasannya. Dari memeriksa setiap keputusan secara langsung, menjadi memastikan bahwa tim memiliki aturan, informasi, dan tanggung jawab yang memungkinkan mereka bekerja dengan benar.

Tim Membutuhkan Informasi untuk Mengambil Keputusan

Memberikan kewenangan kepada karyawan merupakan langkah penting, tetapi hal tersebut belum tentu cukup jika informasi yang dibutuhkan masih sulit diakses.

Bayangkan seorang manager operasional yang bertanggung jawab menentukan pembelian stok barang. Untuk mengambil keputusan, ia perlu mengetahui jumlah persediaan, aktivitas penjualan, dan kebutuhan outlet.

Jika seluruh data tersebut tersimpan di beberapa aplikasi berbeda atau harus diminta kepada bagian lain, keputusan tetap membutuhkan waktu meskipun manager sudah memiliki wewenang.

Situasi yang sama juga terjadi dalam pengelolaan keuangan dan penjualan.

Tim finance membutuhkan catatan transaksi serta informasi anggaran untuk mengevaluasi pengeluaran. Sementara itu, sales manager memerlukan riwayat interaksi dan perkembangan penawaran sebelum menentukan tindak lanjut kepada customer.

Menurut McKinsey, delegasi yang efektif memerlukan dukungan informasi, kemampuan, dan panduan agar karyawan dapat mengambil keputusan sesuai tanggung jawabnya.

Karena itu, pembagian kewenangan juga perlu diikuti dengan sistem pengelolaan informasi yang baik.

Ketika data operasional tersimpan secara terorganisir dan dapat diakses sesuai peran masing-masing, tim memiliki dasar yang lebih jelas untuk melakukan pekerjaannya.

Owner pun tidak harus selalu menjadi sumber informasi utama bagi seluruh departemen.

Owner Tidak Harus Menyetujui Semua Hal untuk Tetap Memiliki Kontrol

Salah satu kesalahpahaman dalam pengelolaan bisnis adalah anggapan bahwa semakin banyak keputusan yang diperiksa langsung oleh owner, semakin baik pula pengawasan perusahaan.

Padahal, mengambil keputusan dan memantau hasil pekerjaan merupakan dua hal yang berbeda.

Seorang pemilik bisnis tidak harus menyetujui setiap pembelian kecil untuk mengetahui kondisi pengeluaran perusahaan. Begitu juga dengan pengelolaan karyawan, owner tidak perlu mengatur seluruh jadwal secara langsung untuk memahami aktivitas tim.

Yang lebih penting adalah tersedianya pembagian tanggung jawab, prosedur kerja, dan informasi yang memungkinkan setiap aktivitas dipantau.

Bain & Company menekankan bahwa kejelasan peran dalam pengambilan keputusan membantu organisasi mengurangi kebingungan dan mempercepat pelaksanaan pekerjaan.

Dengan struktur yang tepat, keputusan operasional dapat ditangani oleh supervisor atau manager sesuai kewenangannya, sementara persoalan yang memiliki dampak lebih besar tetap diteruskan kepada pimpinan.

Owner kemudian dapat berfokus pada evaluasi performa, pengawasan risiko, pengembangan strategi, serta arah pertumbuhan perusahaan.

Pendekatan ini juga memungkinkan karyawan membangun kemampuan mengambil keputusan melalui tanggung jawab yang diberikan secara bertahap.

Jadi, tujuan delegasi bukan menghilangkan keterlibatan owner, melainkan memastikan owner terlibat pada keputusan yang benar-benar membutuhkan kewenangannya.

Bagaimana Membuat Bisnis Tidak Terus Bergantung pada Owner?

Mengurangi ketergantungan pada satu orang tidak cukup hanya dengan menambah jumlah karyawan atau menunjuk lebih banyak manager.

Perusahaan perlu membangun cara kerja yang memungkinkan setiap posisi memahami tanggung jawab dan batas kewenangannya.

Langkah awalnya adalah memastikan pembagian tugas tidak hanya menjelaskan apa yang harus dilakukan, tetapi juga siapa yang berhak mengambil keputusan.

Sebagai contoh, supervisor dapat diberikan kewenangan menyelesaikan persoalan operasional harian, manager bertanggung jawab mengevaluasi kebutuhan departemen, sedangkan owner tetap menangani keputusan strategis.

Selanjutnya, proses approval perlu disesuaikan dengan jenis aktivitas dan tingkat risikonya.

Permintaan rutin dapat memiliki jalur persetujuan yang lebih sederhana, sementara transaksi bernilai besar memerlukan pemeriksaan dari pihak yang memiliki otoritas lebih tinggi.

Selain itu, pekerjaan perlu dikelola melalui sistem yang memungkinkan setiap tugas memiliki penanggung jawab, deadline, dan status penyelesaian yang jelas.

Dengan begitu, pimpinan tidak harus terus menanyakan perkembangan pekerjaan kepada setiap anggota tim karena informasi sudah tercatat dan dapat dipantau.

Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan setiap departemen memperoleh akses terhadap data yang relevan dengan pekerjaannya.

Ketika tanggung jawab, kewenangan, dan informasi tersedia dalam alur yang terstruktur, tim memiliki kesempatan untuk bekerja lebih mandiri tanpa menghilangkan pengawasan perusahaan.

Kolabo: Membantu Bisnis Mengelola Tim dan Tanggung Jawab

Kebutuhan akan pembagian wewenang dan pengawasan yang terstruktur menjadi salah satu alasan pentingnya menggunakan sistem manajemen bisnis.

Melalui Kolabo, perusahaan dapat mengelola berbagai aktivitas operasional dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Fitur Role & Permission membantu mengatur hak akses pengguna berdasarkan posisi dan tanggung jawab masing-masing. Dengan begitu, setiap karyawan dapat diberikan akses sesuai kebutuhan pekerjaannya.

Dalam pengelolaan keuangan, Multi Approval memungkinkan perusahaan menjalankan proses persetujuan transaksi melalui alur yang telah ditentukan, sehingga aktivitas yang membutuhkan otorisasi dapat diteruskan kepada pihak yang berwenang.

Sementara itu, Project & Task Management membantu perusahaan membagikan pekerjaan kepada anggota tim, menetapkan deadline, serta memantau progres melalui dashboard.

Dengan pendekatan tersebut, manager dapat mengawasi aktivitas departemennya, karyawan menjalankan pekerjaan sesuai tanggung jawab, dan owner memiliki informasi untuk memantau operasional tanpa harus selalu terlibat secara langsung.

Tentu saja, penggunaan teknologi tetap perlu didukung oleh kebijakan internal yang jelas. Perusahaan perlu menentukan batas kewenangan, prosedur persetujuan, dan pembagian tanggung jawab sesuai kebutuhan organisasinya.

Kolabo hadir untuk membantu mendukung proses tersebut melalui sistem yang lebih terorganisir, sehingga pengelolaan bisnis tidak hanya bergantung pada komunikasi manual atau arahan dari satu orang.

Penutup

Memiliki tim yang lengkap merupakan langkah penting dalam perkembangan bisnis. Namun, jumlah karyawan yang semakin banyak tidak otomatis membuat operasional berjalan lebih mandiri.

Jika setiap keputusan masih harus melewati owner, perusahaan tetap menghadapi risiko keterlambatan pekerjaan, penumpukan persetujuan, dan ketergantungan terhadap satu orang.

Bain & Company menjelaskan pentingnya kejelasan kewenangan dalam proses pengambilan keputusan. Gallup juga menekankan bahwa pemahaman terhadap tanggung jawab merupakan bagian penting dalam membangun efektivitas kerja.

Sementara itu, McKinsey menunjukkan bahwa delegasi yang baik membutuhkan arahan, dukungan informasi, dan pembagian keputusan yang sesuai dengan tingkat tanggung jawabnya.

Karena itu, solusi dari ketergantungan terhadap owner bukan sekadar meminta karyawan lebih mandiri, tetapi membangun sistem yang memungkinkan mereka bekerja dengan kewenangan dan informasi yang tepat.

Melalui Kolabo, pembagian akses, pengelolaan tugas, serta alur persetujuan dapat didukung dalam satu ekosistem untuk membantu perusahaan menjalankan operasional secara lebih terstruktur.

Dengan demikian, owner dapat lebih berfokus pada strategi dan pengembangan bisnis, sementara tim memiliki kejelasan untuk menjalankan tanggung jawab masing-masing.

Karena pada akhirnya, bisnis yang berkembang bukan hanya bisnis yang memiliki lebih banyak karyawan, tetapi bisnis yang memiliki sistem sehingga seluruh pekerjaan tidak harus selalu bergantung pada owner.

Kolabo — Satu Ekosistem untuk Menjalankan Bisnis.

Lanjut Baca

Artikel lain dari blog Kolabo.