Kolabo Insights

Kolabo

Manage your company in one app

Satu Owner Punya Banyak Bisnis, Gimana Cara Mengelolanya?

Memiliki satu bisnis yang berhasil berkembang tentu menjadi pencapaian tersendiri bagi seorang pengusaha. Namun, tidak sedikit business owner yang kemudian memutuskan untuk memperluas usahanya ke bidang lain. Dari yang awalnya hanya menjalankan restoran, kemudian membuka bisnis laundry, retail, atau bahkan perusahaan jasa.

Sekilas, memiliki beberapa bisnis sekaligus terlihat seperti peluang yang menjanjikan. Setiap usaha memiliki pasar, sumber pendapatan, dan potensi pertumbuhannya masing-masing. Ketika satu bisnis sedang mengalami penurunan, usaha lainnya mungkin masih dapat memberikan pemasukan.

Namun, semakin banyak bisnis yang dimiliki, semakin kompleks pula tanggung jawab yang harus dikelola.

Setiap usaha memiliki karakteristik operasional yang berbeda. Restoran harus memastikan persediaan bahan baku, pesanan customer, dan jadwal karyawan berjalan dengan baik. Laundry perlu memantau proses pengerjaan dan penyelesaian order. Sementara itu, bisnis retail harus mengelola transaksi, stok barang, serta distribusi persediaan.

Di saat yang sama, seluruh bisnis tersebut mungkin masih bergantung pada satu orang yang sama untuk mengambil keputusan, memeriksa laporan keuangan, dan memastikan operasional berjalan sesuai rencana.

Jadi, pertanyaannya bukan hanya bagaimana seorang pengusaha bisa memiliki banyak bisnis, tetapi bagaimana seluruh usaha tersebut dapat dikelola secara efektif tanpa membuat owner harus terlibat dalam setiap aktivitas operasional?

Memiliki Banyak Bisnis Berarti Mengelola Banyak Sistem Kerja

Ketika seorang pengusaha membuka bisnis kedua atau ketiga, tantangannya tidak selalu sama dengan saat mengembangkan usaha pertama.

Jika sebelumnya owner hanya mengelola satu restoran, sebagian besar aktivitas mungkin sudah sangat dipahami. Mulai dari proses pembelian bahan baku, penjadwalan karyawan, pencatatan transaksi, hingga evaluasi penjualan harian.

Namun, ketika bisnis baru bergerak di industri yang berbeda, proses kerja yang digunakan belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama.

Misalnya, sebuah usaha laundry memiliki alur operasional yang berfokus pada penerimaan pakaian, pencatatan order, proses pencucian, penyelesaian layanan, dan pengambilan oleh customer.

Sementara itu, bisnis retail memiliki kebutuhan berbeda, seperti pengelolaan produk, stok varian, transaksi penjualan, retur, serta distribusi barang.

Meskipun seluruhnya dimiliki oleh orang yang sama, masing-masing bisnis tetap membutuhkan cara pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik usahanya.

McKinsey & Company menjelaskan bahwa perusahaan yang memiliki portofolio bisnis beragam dapat menghadapi tantangan ketika seluruh unit dipaksa mengikuti model operasional yang seragam.

Setiap jenis usaha memiliki kebutuhan, struktur biaya, prioritas, dan tingkat pertumbuhan yang berbeda. Karena itu, model pengelolaan yang efektif untuk satu bisnis belum tentu menghasilkan dampak yang sama ketika diterapkan pada usaha lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa mengelola banyak bisnis bukan sekadar memperbanyak jumlah outlet atau perusahaan.

Owner juga perlu memahami bagian mana yang dapat dikelola menggunakan standar yang sama dan bagian mana yang membutuhkan pendekatan berbeda.

Tidak Semua Bisnis Bisa Dikelola dengan Cara yang Sama

Salah satu kesalahan yang berpotensi terjadi ketika mengembangkan beberapa usaha adalah menggunakan ukuran keberhasilan dan cara kerja yang sama untuk seluruh bisnis.

Padahal, setiap industri memiliki aktivitas utama yang berbeda.

Dalam bisnis restoran, kecepatan pelayanan, perputaran meja, penggunaan bahan baku, dan pengelolaan persediaan dapat menjadi faktor penting dalam mengevaluasi operasional.

Sementara itu, usaha laundry mungkin lebih memperhatikan jumlah order yang diselesaikan, ketepatan waktu pengerjaan, kapasitas mesin, serta tingkat pengembalian pekerjaan akibat kesalahan layanan.

Berbeda lagi dengan retail yang perlu memantau perputaran stok, jumlah transaksi, performa produk, dan ketersediaan barang.

Jika owner hanya melihat total pendapatan seluruh usaha tanpa memahami indikator yang relevan bagi masing-masing bisnis, evaluasi dapat menghasilkan gambaran yang kurang lengkap.

Menurut McKinsey, perusahaan dengan beberapa unit bisnis perlu menggunakan indikator performa yang sesuai dengan karakteristik dan faktor pendorong nilai dari setiap usaha.

Dalam pembahasannya mengenai pengelolaan portofolio bisnis, McKinsey menjelaskan bahwa ukuran keuangan yang berlaku untuk seluruh perusahaan tetap perlu dilengkapi dengan KPI yang lebih spesifik bagi masing-masing unit.

Artinya, seluruh bisnis dapat memiliki tujuan besar yang sama, seperti menghasilkan keuntungan dan mempertahankan pertumbuhan. Namun, cara mengukur keberhasilan operasionalnya tidak harus identik.

Dengan indikator yang tepat, owner dapat mengetahui apakah masalah pada sebuah bisnis berasal dari penjualan, biaya, produktivitas tenaga kerja, atau proses operasional yang perlu diperbaiki.

Kenapa Keuangan Setiap Bisnis Perlu Dipisahkan?

Bayangkan seorang owner memiliki tiga usaha: restoran, laundry, dan retail.

Seluruh bisnis tersebut menghasilkan pendapatan setiap hari, memiliki karyawan, serta mengeluarkan biaya operasional yang berbeda.

Namun, bagaimana jika semua transaksi dicatat dalam satu pembukuan tanpa identitas usaha yang jelas?

Ketika pemilik ingin mengetahui total keuntungan restoran, tim finance harus memisahkan kembali seluruh pendapatan dan biaya yang berkaitan dengan bisnis tersebut.

Hal yang sama perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi laundry dan retail.

Jika pencatatan tidak dilakukan secara konsisten sejak awal, perusahaan dapat kesulitan menentukan bisnis mana yang menghasilkan keuntungan, mengalami peningkatan biaya, atau membutuhkan perhatian lebih besar.

Menurut Oracle, struktur keuangan perusahaan perlu dirancang dengan mempertimbangkan entitas hukum, unit bisnis, buku besar, dan kebutuhan pelaporan manajemen.

Pengaturan tersebut membantu organisasi mencatat transaksi berdasarkan struktur usaha yang tepat sekaligus menghasilkan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Sebagai contoh, sebuah bisnis retail mungkin berhasil menghasilkan omzet tertinggi dibandingkan dua usaha lainnya. Namun, setelah biaya persediaan, sewa, dan operasional diperhitungkan, margin keuntungannya ternyata lebih kecil.

Sementara itu, bisnis laundry yang memiliki pendapatan lebih rendah mungkin justru memberikan keuntungan lebih stabil karena struktur biayanya berbeda.

Tanpa laporan keuangan yang dipisahkan, kondisi tersebut bisa sulit diketahui.

Perlu juga dibedakan antara beberapa perusahaan yang memiliki badan hukum tersendiri dengan beberapa cabang atau lini usaha dalam satu perusahaan. Keduanya dapat membutuhkan pengelompokan pencatatan yang berbeda, termasuk untuk kepentingan perpajakan dan pelaporan keuangan.

Karena itu, mengelola banyak bisnis membutuhkan pencatatan yang memungkinkan setiap usaha dievaluasi secara individual tanpa kehilangan gambaran kondisi bisnis secara keseluruhan.

Owner Tidak Harus Terlibat dalam Seluruh Operasional Bisnis

Ketika baru memiliki satu usaha, owner mungkin masih mampu memantau sebagian besar aktivitas secara langsung.

Pemilik dapat mengunjungi lokasi setiap hari, berkomunikasi dengan karyawan, memeriksa transaksi, dan mengambil keputusan ketika terjadi masalah.

Namun, situasinya berubah ketika bisnis bertambah.

Bayangkan pada pagi hari owner harus menyelesaikan masalah stok di restoran, kemudian memeriksa pengeluaran laundry, menghadiri meeting dengan supplier retail, dan pada sore hari menerima laporan dari seluruh manager.

Jika seluruh keputusan masih harus ditangani secara langsung, waktu yang tersedia untuk mengembangkan usaha menjadi semakin terbatas.

McKinsey menjelaskan bahwa pengelolaan portofolio bisnis yang efektif tidak selalu mengharuskan pemilik atau pimpinan pusat terlibat dalam aktivitas operasional sehari-hari.

Organisasi dapat menetapkan kerangka pengawasan dan target performa, sementara masing-masing unit bisnis menjalankan aktivitasnya dengan tingkat kewenangan yang sesuai.

Pendekatan ini membutuhkan struktur manajemen yang jelas.

Sebagai contoh, restoran dapat memiliki manager yang bertanggung jawab terhadap pelayanan, operasional karyawan, serta pengelolaan kebutuhan harian.

Bisnis laundry memiliki penanggung jawab yang memantau order, kapasitas pengerjaan, dan kualitas layanan.

Sementara itu, retail dikelola oleh manager yang mengawasi transaksi, persediaan barang, serta aktivitas penjualan.

Owner kemudian berfokus pada evaluasi performa, pengawasan keuangan, alokasi investasi, dan keputusan strategis untuk masing-masing bisnis.

Dengan pembagian seperti ini, pekerjaan rutin tidak harus selalu menunggu pemilik usaha.

Namun, delegasi tetap perlu disertai batas kewenangan, prosedur kerja, serta mekanisme pelaporan agar setiap manager memahami tanggung jawab yang harus dijalankan.

Pengawasan Banyak Bisnis Membutuhkan Informasi yang Terorganisir

Memberikan tanggung jawab kepada manager merupakan salah satu langkah penting. Namun, owner tetap membutuhkan informasi untuk memahami kondisi setiap bisnis.

Tanpa sistem pelaporan yang jelas, pengawasan mungkin hanya bergantung pada pesan WhatsApp, telepon, atau laporan manual yang dikirimkan ketika diminta.

Misalnya, setiap akhir minggu owner harus menghubungi manager restoran untuk meminta laporan penjualan, menanyakan jumlah order kepada supervisor laundry, dan memeriksa kondisi stok retail melalui tim gudang.

Setelah seluruh informasi diterima, data masih harus dirangkum sebelum dapat dibandingkan.

Proses ini menjadi semakin kompleks ketika setiap usaha menggunakan format pencatatan dan aplikasi yang berbeda.

Menurut McKinsey, pengelolaan portofolio bisnis membutuhkan pemantauan performa yang konsisten agar pimpinan dapat memahami kondisi masing-masing unit serta menentukan prioritas penggunaan sumber daya.

Informasi tersebut tidak harus membuat seluruh bisnis menjalankan proses operasional yang identik.

Sebaliknya, sistem pengawasan perlu mengakomodasi perbedaan kebutuhan setiap usaha sambil tetap menyediakan gambaran yang relevan bagi manajemen.

Sebagai contoh, owner dapat memantau laporan penjualan restoran, jumlah transaksi retail, dan perkembangan order laundry berdasarkan indikator masing-masing.

Pada saat yang sama, laporan keuangan dapat membantu menunjukkan bagaimana setiap bisnis berkontribusi terhadap kondisi keuangan pemilik atau grup usaha, dengan tetap memperhatikan batas entitas dan kebutuhan pelaporannya.

Dengan informasi yang lebih terorganisir, owner dapat melakukan evaluasi tanpa harus selalu hadir secara fisik di setiap lokasi.

Karyawan dari Bisnis Berbeda Membutuhkan Pengelolaan yang Terstruktur

Selain keuangan dan operasional, pengelolaan sumber daya manusia juga menjadi tantangan ketika seorang owner menjalankan banyak bisnis.

Setiap usaha mungkin memiliki jumlah karyawan, jadwal kerja, kebijakan lembur, dan struktur organisasi yang berbeda.

Restoran biasanya membutuhkan pengaturan shift karena aktivitas pelayanan berlangsung sepanjang hari. Laundry dapat memiliki pembagian tenaga kerja berdasarkan proses penerimaan, pencucian, penyelesaian, dan pengiriman.

Sementara itu, retail mungkin memiliki staf kasir, gudang, sales, serta supervisor outlet.

Jika seluruh administrasi karyawan masih dikelola melalui spreadsheet yang berbeda, bagian HR dapat menghadapi pekerjaan tambahan ketika harus memeriksa absensi, menghitung lembur, mengelola cuti, dan memproses payroll.

Situasi menjadi lebih rumit ketika seorang owner menggunakan tim HR atau finance yang sama untuk menangani beberapa usaha.

Perusahaan perlu memastikan bahwa data karyawan, struktur organisasi, dan komponen penggajian tetap dikelompokkan sesuai perusahaan atau unit yang bertanggung jawab.

Di sisi lain, hak akses juga perlu disesuaikan agar setiap manager hanya memperoleh informasi yang relevan dengan pekerjaannya.

Misalnya, manager restoran mungkin membutuhkan akses terhadap data kehadiran dan jadwal karyawan di lokasi yang dikelolanya, tetapi tidak perlu melihat seluruh informasi payroll atau data internal bisnis retail.

Dengan pembagian akses yang tepat, perusahaan dapat mendukung koordinasi tanpa memberikan seluruh informasi kepada setiap pengguna.

Karena itu, pengelolaan banyak bisnis bukan hanya persoalan memiliki cukup karyawan, tetapi juga memastikan setiap orang berada dalam struktur yang jelas dan memiliki tanggung jawab sesuai kebutuhan usaha.

Mana yang Perlu Dikelola Bersama dan Mana yang Harus Dipisahkan?

Ketika memiliki beberapa bisnis, owner mungkin mempertimbangkan apakah seluruh aktivitas administratif sebaiknya digabungkan atau dikelola oleh tim yang berbeda.

Misalnya, apakah restoran, laundry, dan retail harus memiliki bagian HR masing-masing? Apakah ketiganya membutuhkan tim finance terpisah? Atau justru lebih efektif jika beberapa fungsi dikelola secara terpusat?

Jawabannya bergantung pada skala, struktur hukum, dan kebutuhan operasional setiap usaha.

McKinsey menjelaskan bahwa perusahaan dengan beberapa unit bisnis perlu menemukan keseimbangan antara fungsi yang dikelola secara terpusat dan kewenangan yang diberikan kepada masing-masing unit.

Pengelolaan terpusat dapat membantu membangun standar dan memanfaatkan sumber daya bersama. Namun, pendekatan yang terlalu seragam juga dapat mengurangi fleksibilitas unit bisnis yang memiliki kebutuhan berbeda.

Sebagai contoh, seorang owner dapat menggunakan tim finance untuk membantu administrasi pembukuan beberapa perusahaan, selama pencatatan dan tanggung jawab keuangan masing-masing entitas tetap dipisahkan sebagaimana diperlukan.

Sementara itu, kegiatan operasional harian seperti pelayanan restoran, proses laundry, dan pengelolaan outlet retail tetap dijalankan oleh tim yang memahami karakteristik usaha tersebut.

Pendekatan seperti ini memungkinkan perusahaan mempertahankan standar pengawasan tanpa harus menyamakan seluruh proses operasional.

Namun, penggabungan fungsi administratif juga membutuhkan pembagian tanggung jawab, kebijakan, dan akses informasi yang jelas agar tidak menimbulkan kebingungan.

Dengan demikian, tujuan pengelolaan terpusat bukan membuat seluruh bisnis bekerja dengan cara yang sama, melainkan mempermudah fungsi-fungsi yang memang dapat dikoordinasikan bersama.

Bisnis Mana yang Harus Mendapatkan Prioritas?

Memiliki beberapa bisnis berarti owner juga harus menentukan bagaimana waktu, modal, dan sumber daya perusahaan dialokasikan.

Setiap usaha mungkin memiliki kebutuhan investasi yang berbeda.

Restoran membutuhkan renovasi untuk meningkatkan kapasitas pelanggan. Laundry ingin menambah mesin agar dapat menerima lebih banyak order. Sementara itu, retail berencana membuka cabang baru di lokasi yang memiliki potensi pasar lebih besar.

Jika seluruh kebutuhan tersebut muncul secara bersamaan, owner harus menentukan keputusan mana yang paling sesuai dengan kondisi keuangan dan strategi bisnis.

Namun, keputusan investasi tidak cukup hanya didasarkan pada bisnis mana yang sedang menghasilkan omzet tertinggi.

McKinsey menjelaskan bahwa pengelolaan portofolio bisnis membutuhkan evaluasi terhadap potensi pertumbuhan, performa keuangan, penggunaan modal, dan kontribusi masing-masing unit terhadap tujuan perusahaan.

Dalam praktiknya, bisnis dengan pertumbuhan penjualan tinggi mungkin membutuhkan investasi besar untuk mempertahankan perkembangannya. Sementara itu, usaha yang lebih stabil dapat memberikan arus kas yang mendukung kebutuhan operasional lainnya.

Karena itu, owner perlu melihat setiap bisnis berdasarkan karakteristik dan tahap perkembangannya.

Misalnya, sebuah restoran yang sudah memiliki pelanggan tetap mungkin lebih membutuhkan peningkatan efisiensi daripada ekspansi lokasi.

Sementara itu, bisnis laundry yang permintaannya terus meningkat bisa saja membutuhkan tambahan kapasitas agar tidak kehilangan peluang penjualan.

Dengan laporan yang terstruktur, owner dapat membandingkan kebutuhan, risiko, dan potensi dari masing-masing usaha sebelum mengalokasikan sumber daya.

Hal ini membantu memastikan bahwa pengembangan satu bisnis tidak dilakukan tanpa memahami dampaknya terhadap usaha lain yang juga dimiliki.

Apakah Banyak Bisnis Harus Menggunakan Banyak Aplikasi Berbeda?

Karena setiap jenis bisnis memiliki kebutuhan operasional yang berbeda, perusahaan mungkin menggunakan aplikasi tersendiri untuk masing-masing usaha.

Restoran memakai sistem kasir dan pengelolaan persediaan bahan baku. Laundry menggunakan aplikasi untuk mencatat order dan proses layanan. Retail memiliki platform penjualan, stok barang, dan pengelolaan outlet.

Sementara itu, administrasi karyawan, pembukuan, dan laporan keuangan juga dapat dikelola melalui software lainnya.

Penggunaan aplikasi berbeda tidak selalu menjadi masalah, terutama jika setiap platform memang diperlukan untuk mendukung kebutuhan spesifik bisnis.

Namun, tantangan muncul ketika informasi tersebar di terlalu banyak sistem tanpa pengelompokan dan alur pelaporan yang baik.

Owner mungkin harus berpindah aplikasi untuk memeriksa hasil penjualan, meminta laporan finance secara terpisah, lalu menghubungi tim HR untuk mengetahui kondisi karyawan.

Menurut Oracle, perancangan struktur sistem perusahaan perlu mempertimbangkan hubungan antara entitas hukum, unit bisnis, dan kebutuhan pelaporan sejak awal.

Melalui pengelompokan yang sesuai, setiap usaha dapat memiliki pencatatan yang relevan dengan kegiatannya tanpa menghilangkan kemampuan manajemen untuk mengakses informasi yang dibutuhkan.

Karena itu, memilih sistem bisnis bukan hanya tentang mencari aplikasi yang memiliki banyak fitur.

Perusahaan juga perlu mempertimbangkan apakah sistem tersebut dapat mendukung lebih dari satu perusahaan atau cabang, memisahkan data berdasarkan struktur usaha, dan memberikan akses sesuai tanggung jawab masing-masing pengguna.

Yang dibutuhkan bukan selalu lebih banyak aplikasi, tetapi sistem yang mampu menyesuaikan diri dengan cara berbagai bisnis dikelola.

Kolabo: Satu Ekosistem untuk Mengelola Berbagai Jenis Bisnis

Mengelola beberapa bisnis sekaligus membutuhkan sistem yang dapat mendukung kebutuhan operasional berbeda, tetapi tetap memungkinkan pengawasan dilakukan secara terstruktur.

Kebutuhan tersebut dapat didukung melalui Kolabo, sebuah platform bisnis terintegrasi yang menyediakan berbagai modul pengelolaan dalam satu ekosistem.

Melalui Kolabo Accounting Multi Company, perusahaan dapat mengelola pencatatan keuangan beberapa perusahaan berdasarkan struktur yang telah diatur. Sementara itu, fitur Multi Cabang mendukung pengelompokan aktivitas dan pelaporan sesuai kebutuhan operasional perusahaan.

Dengan pencatatan yang lebih terorganisir, owner dapat mengevaluasi kondisi keuangan masing-masing bisnis tanpa harus menggabungkan seluruh transaksi ke dalam satu catatan yang tidak dibedakan berdasarkan usaha.

Untuk bisnis retail dan F&B, Kolabo POS membantu pengelolaan transaksi penjualan, persediaan barang, serta operasional outlet. Fitur Multi Outlet juga mendukung pemantauan aktivitas penjualan dan stok di berbagai lokasi.

Sementara itu, Kolabo HRM membantu mengelola data karyawan, absensi, jadwal kerja, cuti, lembur, hingga payroll melalui proses administrasi yang lebih terstruktur.

Dalam pengelolaan hubungan pelanggan, Kolabo CRM dapat digunakan untuk mencatat data customer, mengelola riwayat interaksi, serta memantau perkembangan proses penjualan.

Kolabo juga menyediakan Role & Permission untuk membantu perusahaan mengatur akses berdasarkan peran dan tanggung jawab pengguna.

Dengan demikian, setiap manager dapat memperoleh akses sesuai struktur dan kebutuhan pekerjaan, sementara owner tetap memiliki sarana untuk memantau aktivitas bisnis berdasarkan kewenangannya.

Untuk kebutuhan koordinasi pekerjaan, Project & Task Management membantu pembagian tugas, pengaturan deadline, dan pemantauan progres melalui dashboard.

Kombinasi berbagai modul tersebut memungkinkan perusahaan menyesuaikan sistem dengan kebutuhan masing-masing usaha, tanpa harus mengelola seluruh aktivitas melalui aplikasi yang berjalan secara terpisah.

Namun, penggunaan sistem tetap perlu disertai struktur perusahaan, pembagian tanggung jawab, serta kebijakan operasional yang jelas.

Karena setiap bisnis memiliki karakteristik berbeda, konfigurasi perusahaan, cabang, dan modul juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta bentuk pengelolaan yang dijalankan.

Dengan pendekatan tersebut, Kolabo dapat membantu owner mengelola berbagai kebutuhan usaha secara lebih terorganisir dalam satu ekosistem.

Penutup

Memiliki banyak bisnis dapat membuka peluang pertumbuhan dan sumber pendapatan yang lebih beragam. Namun, bertambahnya jumlah usaha juga membawa tantangan baru dalam pengelolaan operasional, keuangan, karyawan, dan pengambilan keputusan.

Setiap bisnis memiliki karakteristik yang berbeda. Apa yang efektif untuk restoran belum tentu sesuai bagi laundry, retail, atau perusahaan jasa.

McKinsey menjelaskan bahwa perusahaan dengan portofolio bisnis yang beragam membutuhkan model operasional dan indikator performa yang disesuaikan dengan masing-masing unit. Sementara itu, Oracle menekankan pentingnya struktur entitas, unit bisnis, dan pencatatan keuangan yang tepat untuk mendukung pelaporan serta pengelolaan perusahaan.

Artinya, mengelola banyak bisnis tidak cukup hanya dengan memperbanyak karyawan atau menambah waktu pengawasan owner.

Perusahaan perlu memiliki struktur manajemen yang jelas, pembagian kewenangan, pencatatan keuangan yang terpisah sesuai kebutuhan, serta sistem pelaporan yang memungkinkan setiap usaha dievaluasi secara menyeluruh.

Dengan demikian, owner dapat berfokus pada keputusan strategis dan pengembangan bisnis tanpa harus terus terlibat dalam seluruh aktivitas operasional harian.

Melalui Kolabo, kebutuhan Accounting Multi Company, Multi Cabang, POS, HRM, CRM, serta Project & Task Management dapat didukung dalam satu ekosistem untuk membantu perusahaan mengelola berbagai jenis usaha secara lebih terstruktur.

Karena pada akhirnya, tantangan memiliki banyak bisnis bukan hanya bagaimana membuat semuanya terus berkembang, tetapi bagaimana membangun sistem agar setiap usaha dapat berjalan sesuai kebutuhannya tanpa seluruh operasional harus bergantung pada satu owner.

Lanjut Baca

Artikel lain dari blog Kolabo.