Memiliki banyak channel penjualan kini menjadi salah satu strategi bisnis untuk menjangkau lebih banyak customer. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan transaksi di toko fisik, tetapi juga menggunakan website, marketplace, WhatsApp, media sosial, hingga tim sales untuk menawarkan produk dan layanan.
Semakin banyak channel yang digunakan, semakin besar pula peluang bisnis mendapatkan transaksi. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul tantangan baru yang sering kali tidak langsung terlihat, yaitu bagaimana memastikan seluruh penjualan tercatat dengan benar.
Bayangkan sebuah bisnis retail yang menerima pembelian dari toko fisik, marketplace, dan WhatsApp setiap hari. Transaksi kasir tercatat dalam aplikasi POS, pesanan marketplace tersimpan di dashboard platform, sementara penjualan melalui WhatsApp dikelola langsung oleh admin.
Ketika seluruh laporan digabungkan pada akhir bulan, tim finance menemukan angka penjualan yang berbeda. Beberapa pembayaran belum diterima, biaya administrasi marketplace belum dicatat, dan sebagian transaksi ternyata tercatat lebih dari sekali.
Akibatnya, perusahaan kesulitan mengetahui berapa pendapatan yang benar-benar diperoleh dan channel mana yang memberikan keuntungan paling besar.
Situasi ini menunjukkan bahwa memperluas penjualan tidak hanya berkaitan dengan mendapatkan lebih banyak customer, tetapi juga mempersiapkan sistem pencatatan yang mampu mengikuti perkembangan bisnis.
Lalu, bagaimana cara mengelola penjualan dari banyak channel agar setiap transaksi tetap terpantau dan laporan keuangan perusahaan tidak berantakan?
Semakin Banyak Channel Penjualan, Semakin Kompleks Pengelolaan Keuangan
Perkembangan teknologi digital membuat perusahaan memiliki lebih banyak pilihan untuk menjangkau customer.
Sebuah brand fashion, misalnya, dapat menjual produk melalui outlet fisik, marketplace, website, dan media sosial secara bersamaan. Sementara itu, perusahaan B2B mungkin mengandalkan tim sales, WhatsApp, dan penawaran langsung kepada klien.
Setiap channel memiliki cara kerja yang berbeda, mulai dari penerimaan pesanan, metode pembayaran, biaya transaksi, hingga waktu pencairan dana.
Berdasarkan penelitian Salesforce yang diterbitkan pada September 2026 terhadap 865 pemimpin keuangan di lima negara, sebanyak 71% responden menyatakan bahwa perusahaan mereka menggunakan lebih banyak channel penjualan dibandingkan 12 bulan sebelumnya.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa 65% responden mengelola lebih dari satu model pendapatan, termasuk penjualan satu kali, subscription, layanan profesional, hingga sistem pembayaran berdasarkan penggunaan.
Temuan ini menunjukkan bahwa kompleksitas pengelolaan pendapatan semakin meningkat seiring berkembangnya cara perusahaan menjual produk dan layanan.
Bagi tim finance, pertumbuhan tersebut berarti semakin banyak data transaksi yang perlu dicatat, diperiksa, dan disesuaikan.
Permasalahan muncul ketika setiap channel memiliki sistem pencatatan sendiri tanpa proses konsolidasi yang jelas.
Tim sales mungkin memiliki daftar transaksi yang sudah closing, sementara accounting hanya mencatat invoice yang diterbitkan. Di sisi lain, laporan marketplace menampilkan nilai pesanan yang belum tentu sama dengan dana yang sudah diterima perusahaan.
Jika perbedaan tersebut tidak dipahami, perusahaan dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi keuangan yang belum lengkap.
Karena itu, semakin banyak channel penjualan yang digunakan, semakin penting pula memastikan seluruh transaksi memiliki alur pencatatan yang konsisten.
Penjualan Tercatat Belum Tentu Uangnya Sudah Diterima
Salah satu kesalahan yang dapat terjadi dalam bisnis multichannel adalah menganggap seluruh nilai transaksi sebagai uang yang sudah tersedia.
Padahal, penjualan, pendapatan yang diakui, dan penerimaan kas merupakan informasi yang berbeda.
Misalnya, sebuah toko berhasil mencatat penjualan marketplace sebesar Rp100 juta dalam satu bulan.
Angka tersebut menunjukkan nilai transaksi yang tercatat pada platform berdasarkan definisi laporan yang digunakan. Namun, dana yang masuk ke rekening perusahaan mungkin berbeda karena adanya biaya layanan, refund, potongan promosi, atau pembayaran yang belum dicairkan.
Hal serupa terjadi pada bisnis B2B.
Tim sales mungkin berhasil melakukan closing kontrak senilai Rp200 juta, tetapi pembayaran dari customer baru akan diterima setelah pekerjaan selesai atau sesuai termin yang disepakati.
Artinya, nilai deal yang berhasil disepakati belum tentu langsung menjadi kas perusahaan.
Dalam panduan akuntansi ecommerce yang diterbitkan Shopify pada September 2026, bisnis perlu membedakan pencatatan penjualan, biaya pemrosesan pembayaran, refund, serta dana yang benar-benar masuk ke rekening.
Shopify juga menjelaskan pentingnya mencocokkan laporan transaksi dengan informasi pencairan dana dari penyedia pembayaran sebelum melakukan rekonsiliasi dengan rekening bank.
Tanpa proses tersebut, perusahaan bisa menganggap terdapat selisih keuangan padahal perbedaannya berasal dari biaya atau jadwal pencairan.
Sebaliknya, kesalahan pencatatan yang sebenarnya terjadi juga dapat sulit ditemukan apabila seluruh transaksi hanya dibandingkan berdasarkan total akhirnya.
Karena itu, perusahaan perlu memahami status setiap transaksi, mulai dari pesanan diterima, invoice diterbitkan, pembayaran diproses, hingga dana benar-benar masuk.
Dengan pencatatan yang jelas, tim finance dapat membedakan pendapatan, piutang, biaya transaksi, dan penerimaan kas secara lebih akurat.
Data Penjualan yang Terpisah Membuat Laporan Sulit Dicocokkan
Menggunakan banyak channel penjualan sebenarnya bukan masalah apabila perusahaan memiliki mekanisme pengelolaan data yang terstruktur.
Namun, ketika setiap departemen menggunakan aplikasi dan format pencatatan berbeda, proses penggabungan laporan dapat menjadi semakin rumit.
Bayangkan sebuah bisnis menerima pesanan melalui WhatsApp. Admin mencatat informasi customer, lalu tim sales membuat invoice melalui sistem accounting.
Pada saat yang sama, transaksi tersebut juga dimasukkan ke laporan penjualan manual karena dianggap berasal dari channel WhatsApp.
Jika perusahaan tidak memiliki aturan yang jelas mengenai sumber data transaksi, satu penjualan berpotensi dihitung dua kali ketika laporan digabungkan.
Permasalahan serupa dapat terjadi pada transaksi marketplace yang menggunakan format laporan berbeda dari aplikasi kasir atau sistem accounting perusahaan.
Berdasarkan penelitian Webgility pada 2026 yang disusun dari percakapan dengan lebih dari 500 bisnis ecommerce, sebanyak 54% bisnis yang diteliti menghadapi masalah ketidaksesuaian antara catatan persediaan dan pembukuan, sementara 48% mengalami persoalan pencocokan dana dari channel penjualan.
Temuan tersebut berasal dari kelompok bisnis yang diteliti Webgility, sehingga tidak dapat dianggap sebagai gambaran seluruh perusahaan ecommerce. Namun, hasilnya memperlihatkan tantangan nyata ketika data transaksi dan pencatatan operasional tidak dikelola secara konsisten.
Salesforce juga menemukan bahwa 67% pemimpin keuangan yang disurvei menyatakan tim mereka masih menyelesaikan sedikitnya seperlima alur pekerjaan secara manual, termasuk melalui spreadsheet.
Pekerjaan manual tidak selalu menghasilkan kesalahan. Namun, semakin banyak transaksi yang perlu dipindahkan dan diperiksa, semakin besar kebutuhan akan kontrol untuk memastikan tidak ada data yang tertinggal atau tercatat berulang.
Karena itu, perusahaan perlu menentukan satu acuan pencatatan untuk setiap transaksi serta memastikan perpindahan data antarbagian memiliki proses pemeriksaan yang jelas.
Jangan Sampai Satu Pesanan Dicatat Sebagai Dua Penjualan
Dalam bisnis multichannel, satu customer dapat berinteraksi melalui beberapa channel sebelum melakukan pembelian.
Misalnya, customer pertama kali melihat produk melalui Instagram, kemudian bertanya melalui WhatsApp, dan akhirnya melakukan pembayaran di toko fisik.
Dari sisi marketing, Instagram berperan sebagai sumber awal ketertarikan customer. WhatsApp menjadi sarana komunikasi, sedangkan transaksi penjualan diselesaikan melalui kasir.
Namun, ketiganya bukan berarti menghasilkan tiga penjualan berbeda.
Jika masing-masing tim membuat laporan berdasarkan interaksi yang terjadi tanpa membedakan sumber leads dan transaksi akhir, angka penjualan perusahaan dapat terlihat lebih besar dari kondisi sebenarnya.
Shopify pada Juli 2026 menjelaskan konsep unified commerce, yaitu pendekatan yang menghubungkan berbagai titik interaksi penjualan melalui informasi customer, pesanan, dan operasional yang konsisten.
Pendekatan ini membantu perusahaan memahami perjalanan customer tanpa memisahkan seluruh aktivitas menjadi transaksi yang tidak saling berkaitan.
Dalam praktiknya, perusahaan perlu membedakan data leads, quotation, sales order, invoice, dan pembayaran.
Leads menunjukkan peluang penjualan. Quotation berisi penawaran kepada customer. Sementara itu, invoice dan bukti pembayaran digunakan sesuai tahap transaksi dan proses pencatatan perusahaan.
Dengan memahami perbedaan tersebut, bisnis dapat menghindari pencatatan ganda serta memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai kontribusi setiap channel.
Biaya Setiap Channel Juga Harus Diperhitungkan
Memiliki banyak channel penjualan memang dapat meningkatkan potensi omzet. Namun, tidak semua channel memberikan tingkat keuntungan yang sama.
Misalnya, sebuah bisnis memiliki dua channel penjualan dengan nilai transaksi yang identik.
Channel pertama berasal dari toko fisik, sedangkan channel kedua melalui marketplace.
Meskipun nilai penjualannya sama, biaya yang dikeluarkan bisa berbeda.
Penjualan marketplace mungkin melibatkan biaya administrasi, komisi platform, voucher promosi yang ditanggung penjual, atau biaya layanan lainnya. Sementara itu, outlet fisik memiliki kebutuhan operasional seperti sewa tempat, tenaga kerja, dan utilitas.
Jika perusahaan hanya membandingkan total penjualan, channel dengan omzet terbesar mungkin terlihat sebagai yang paling berhasil.
Padahal, setelah memperhitungkan biaya terkait, keuntungan yang dihasilkan dapat berbeda.
Shopify menjelaskan bahwa laporan keuangan ecommerce perlu mencatat biaya transaksi, refund, persediaan, dan harga pokok penjualan untuk membantu perusahaan memahami profitabilitas bisnis.
Hal ini menjadi penting ketika perusahaan ingin menentukan channel mana yang perlu dikembangkan atau dievaluasi.
Sebagai contoh, sebuah bisnis mungkin memiliki penjualan marketplace yang terus meningkat, tetapi margin keuntungannya semakin kecil akibat biaya promosi dan komisi.
Tanpa pencatatan biaya yang terpisah, kondisi tersebut bisa tidak terlihat karena perhatian perusahaan hanya tertuju pada pertumbuhan omzet.
Karena itu, evaluasi performa channel sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan jumlah transaksi, tetapi juga biaya penjualan, margin, serta kontribusinya terhadap keuntungan perusahaan.
Stok Barang Juga Harus Mengikuti Pergerakan Penjualan
Selain pencatatan keuangan, bisnis yang menjual produk fisik melalui banyak channel juga perlu memperhatikan pengelolaan persediaan.
Bayangkan sebuah toko menjual produk yang sama melalui outlet fisik dan marketplace.
Ketika customer membeli produk terakhir di toko, stok seharusnya segera diperbarui agar informasi ketersediaan pada channel lain tetap akurat.
Namun, jika pencatatan antarplatform tidak terhubung atau tidak diperbarui tepat waktu, marketplace mungkin masih menampilkan barang tersebut sebagai produk yang tersedia.
Akibatnya, bisnis menerima pesanan baru yang tidak dapat dipenuhi.
Situasi seperti ini dapat menyebabkan pembatalan transaksi, keterlambatan pengiriman, dan ketidakpuasan customer.
Shopify dalam pembahasan manajemen persediaan multichannel pada Agustus 2026 menekankan pentingnya memiliki informasi stok yang konsisten antarplatform dan lokasi penyimpanan.
Menurut Shopify, pengelolaan persediaan yang terpusat membantu bisnis mengetahui jumlah barang yang tersedia, lokasi penyimpanan, serta pergerakan produk ketika terjadi penjualan atau perpindahan stok.
Pencatatan stok juga berhubungan dengan keuangan karena nilai persediaan dan harga pokok penjualan memengaruhi laporan bisnis.
Karena itu, perusahaan perlu memastikan proses pembelian, penjualan, retur, dan stock opname memiliki mekanisme pencatatan yang terstruktur.
Dengan pengelolaan tersebut, informasi stok tidak hanya membantu tim operasional memenuhi pesanan, tetapi juga mendukung ketepatan data persediaan dalam laporan keuangan.
Rekonsiliasi Membantu Memastikan Seluruh Transaksi Sesuai
Ketika perusahaan menerima transaksi dari berbagai channel, rekonsiliasi menjadi bagian penting dalam menjaga keakuratan pencatatan.
Rekonsiliasi merupakan proses mencocokkan informasi transaksi dari beberapa sumber untuk memastikan data keuangan sudah sesuai.
Misalnya, sebuah bisnis menerima pembayaran melalui transfer bank, QRIS, marketplace, dan metode pembayaran lainnya.
Masing-masing metode dapat memiliki waktu pencairan dan komponen biaya berbeda.
Jika perusahaan hanya menjumlahkan seluruh transaksi penjualan kemudian membandingkannya dengan saldo rekening, hasilnya mungkin tidak langsung sama.
Dalam artikel yang diterbitkan pada Januari 2026, Shopify menjelaskan bahwa rekonsiliasi membantu memastikan kesesuaian antara pembukuan internal dengan rekening bank, invoice, catatan pembayaran, dan dokumen transaksi lainnya.
Untuk bisnis multichannel, proses ini dapat dilakukan dengan mencocokkan setiap pesanan dengan laporan pembayaran dan rincian pencairan dana, kemudian membandingkannya dengan mutasi rekening.
Apabila terdapat perbedaan, tim finance perlu memeriksa apakah penyebabnya berasal dari biaya administrasi, refund, transaksi yang belum dicairkan, atau kesalahan pencatatan.
Dengan pemeriksaan yang dilakukan secara berkala, perusahaan dapat menemukan ketidaksesuaian lebih awal tanpa harus menunggu akhir bulan ketika jumlah transaksi sudah semakin banyak.
Rekonsiliasi yang baik juga membantu perusahaan menghasilkan laporan keuangan berdasarkan data yang telah diperiksa, bukan sekadar penjumlahan angka dari berbagai dashboard penjualan.
Bagaimana Mengelola Penjualan Multichannel dengan Lebih Terstruktur?
Mengelola banyak channel penjualan membutuhkan proses yang konsisten sejak customer melakukan pemesanan hingga transaksi tercatat dalam laporan keuangan.
Langkah awalnya adalah memetakan seluruh channel yang digunakan perusahaan, termasuk toko fisik, WhatsApp, marketplace, website, dan tim sales.
Setiap channel perlu memiliki alur yang jelas mengenai bagaimana pesanan diterima, siapa yang memprosesnya, kapan invoice dibuat, serta bagaimana pembayaran dan biaya transaksi dicatat.
Selanjutnya, perusahaan perlu menetapkan identitas atau referensi transaksi agar informasi dari beberapa sistem dapat dicocokkan tanpa menimbulkan pencatatan ganda.
Untuk bisnis yang menggunakan persediaan fisik, pergerakan stok juga perlu diperbarui sesuai transaksi, retur, dan perpindahan barang.
Dari sisi keuangan, perusahaan sebaiknya membedakan nilai penjualan dengan pembayaran yang sudah diterima, termasuk mencatat piutang, biaya platform, dan kewajiban lain yang relevan.
Rekonsiliasi kemudian dilakukan secara berkala untuk memastikan laporan transaksi, pembayaran, dan rekening bank menunjukkan informasi yang sesuai.
Pendekatan ini sejalan dengan panduan Shopify mengenai pengelolaan akuntansi ecommerce, yang menekankan pentingnya pencatatan transaksi secara konsisten, pengelolaan persediaan, dan rekonsiliasi dana.
Perusahaan juga dapat mempertimbangkan penggunaan sistem bisnis yang saling terhubung untuk mengurangi kebutuhan memindahkan informasi secara manual.
Namun, integrasi sistem tetap perlu dilengkapi aturan pencatatan, pembagian akses, serta pemeriksaan data agar proses yang berjalan tidak hanya cepat, tetapi juga akurat.
Kolabo: Membantu Mengelola Penjualan dan Keuangan dalam Satu Ekosistem
Ketika perusahaan mengembangkan penjualan melalui berbagai channel, kebutuhan operasional tidak lagi terbatas pada pencatatan transaksi.
Bisnis juga perlu mengelola interaksi customer, penawaran penjualan, persediaan barang, pembayaran, serta laporan keuangan secara terstruktur.
Kebutuhan tersebut dapat didukung melalui Kolabo, sebuah platform Business Operating System yang menghadirkan berbagai modul pengelolaan bisnis dalam satu ekosistem.
Melalui Kolabo CRM, perusahaan dapat mengelola database customer, mencatat interaksi, serta memantau perkembangan peluang penjualan melalui Deal Pipeline.
Fitur ini membantu tim sales mengorganisir leads, quotation, dan proses follow-up agar setiap peluang penjualan memiliki informasi yang jelas.
Kolabo juga menghadirkan WhatsApp Force, yang membantu perusahaan mengelola komunikasi customer melalui WhatsApp dengan dukungan penggunaan oleh beberapa admin atau anggota tim.
Dengan pencatatan interaksi dan informasi customer yang lebih terstruktur, perusahaan memiliki sarana untuk memantau aktivitas penjualan yang berasal dari komunikasi langsung.
Sementara itu, Kolabo POS membantu bisnis retail dan F&B mengelola transaksi kasir, produk, serta persediaan barang.
Melalui fitur Inventory Management, perusahaan dapat mencatat stok, mengelola SKU produk, memantau pergerakan persediaan, hingga melakukan Stock Opname.
Untuk bisnis dengan beberapa outlet, pengelolaan cabang membantu perusahaan mengorganisir aktivitas penjualan dan persediaan berdasarkan lokasi operasional.
Dari sisi keuangan, Kolabo Accounting membantu perusahaan mengelola invoice, pembayaran, piutang, utang usaha, jurnal, serta berbagai kebutuhan pencatatan akuntansi.
Perusahaan juga dapat menggunakan laporan keuangan, seperti laba rugi, untuk mengevaluasi performa bisnis berdasarkan transaksi dan biaya yang telah dicatat.
Fitur Bank Reconciliation membantu proses pencocokan catatan keuangan dengan transaksi pada rekening bank, sehingga tim finance dapat melakukan pemeriksaan terhadap perbedaan yang ditemukan.
Selain itu, fitur Multi Branch dan Multi Company mendukung pengelolaan keuangan untuk bisnis yang memiliki beberapa cabang maupun entitas perusahaan.
Sebagai contoh, sebuah bisnis retail yang menerima penjualan melalui outlet dan komunikasi WhatsApp dapat menggunakan Kolabo POS untuk mengelola transaksi kasir, Kolabo CRM untuk menangani aktivitas customer, serta Kolabo Accounting untuk pencatatan keuangannya.
Melalui ekosistem tersebut, perusahaan memiliki sarana untuk mengelola proses penjualan dan keuangan tanpa harus memisahkan seluruh kebutuhan operasional ke banyak aplikasi yang berdiri sendiri.
Namun, transaksi dari marketplace, website, atau platform eksternal tetap perlu dipastikan memiliki mekanisme integrasi atau pencatatan yang sesuai. Penggunaan Kolabo tidak secara otomatis berarti seluruh channel eksternal sudah tersinkronisasi tanpa konfigurasi tambahan.
Perusahaan juga perlu menetapkan prosedur pencatatan dan rekonsiliasi agar seluruh transaksi yang masuk dapat diperiksa secara konsisten.
Dengan pendekatan tersebut, Kolabo dapat membantu bisnis membangun pengelolaan penjualan dan keuangan yang lebih terorganisir seiring bertambahnya channel dan aktivitas operasional.
Penutup
Mengembangkan bisnis melalui banyak channel penjualan merupakan peluang untuk menjangkau lebih banyak customer dan meningkatkan pendapatan.
Namun, semakin luas aktivitas penjualan, semakin kompleks pula kebutuhan pencatatan, pengelolaan pembayaran, persediaan, dan laporan keuangan.
Penelitian Salesforce pada 2026 menunjukkan bahwa semakin banyak perusahaan memperluas channel penjualan sekaligus menggunakan berbagai model pendapatan. Di sisi lain, penelitian Webgility menggambarkan tantangan pencocokan data yang masih dialami sejumlah bisnis ecommerce ketika aktivitas penjualan berkembang lebih cepat daripada proses pembukuannya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan perlu diimbangi dengan pengelolaan operasional yang lebih terstruktur.
Perusahaan perlu memastikan setiap transaksi memiliki catatan yang jelas, biaya setiap channel diperhitungkan, stok barang diperbarui, serta pembayaran diperiksa melalui rekonsiliasi secara berkala.
Melalui Kolabo, kebutuhan CRM, POS, dan Accounting dapat dikelola dalam satu ekosistem untuk membantu perusahaan mengorganisir aktivitas penjualan, interaksi customer, persediaan, serta pencatatan keuangan.
Dengan proses yang lebih terhubung dan pengawasan yang konsisten, bisnis memiliki dasar informasi yang lebih baik untuk mengevaluasi performa setiap channel dan menentukan strategi pertumbuhan berikutnya.
Karena pada akhirnya, keberhasilan bisnis multichannel bukan hanya tentang seberapa banyak tempat perusahaan menjual produk, tetapi seberapa baik setiap transaksi dapat dikelola, dicatat, dan memberikan keuntungan yang terukur.
Kolabo — Satu Ekosistem untuk Menjalankan Bisnis.
