Usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM merupakan bagian penting dari perekonomian Indonesia. Mulai dari pedagang makanan, toko kelontong, usaha fashion, hingga bisnis jasa, jutaan pelaku usaha menggantungkan keberlangsungan bisnisnya pada aktivitas konsumsi masyarakat.
Namun, di tengah pemulihan ekonomi setelah pandemi, sebagian pelaku UMKM justru merasa kondisi usaha mereka semakin berat.
Pada 20 Oktober 2026, KONTAN memberitakan keluhan sejumlah pelaku UMKM yang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari melemahnya daya beli customer, kenaikan biaya bahan baku, biaya sewa, hingga keterbatasan akses permodalan.
Salah satu pedagang ketoprak bernama Muhammad Aji bahkan mengaku bahwa kondisi usahanya saat ini terasa lebih sulit dibandingkan ketika pandemi berlangsung.
Sepinya pengunjung pasar dan pusat perbelanjaan berdampak pada penjualan, sementara biaya tempat berjualan terus meningkat.
Situasi tersebut menggambarkan persoalan yang tidak sederhana. Ketika pandemi berakhir dan aktivitas masyarakat kembali normal, pelaku usaha tentu berharap penjualan dapat kembali stabil.
Namun, kenyataannya tidak semua bisnis merasakan pemulihan yang sama.
Sebagian usaha menghadapi jumlah customer yang berkurang, sementara kebutuhan operasional justru semakin mahal. Ada pula bisnis yang masih mencatat penjualan, tetapi keuntungan yang tersisa semakin kecil.
Lalu, mengapa sebagian UMKM merasa menjalankan bisnis sekarang justru lebih sulit dibandingkan ketika pandemi, dan apa yang sebenarnya membuat kondisi usaha semakin menantang?
Ekonomi Mulai Pulih, tetapi Tidak Semua Bisnis Merasakan Hasil yang Sama
Secara nasional, aktivitas ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan pada sejumlah indikator.
Namun, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tidak selalu menggambarkan kondisi yang dialami setiap pelaku usaha.
Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Indeks Penjualan Riil atau IPR pada September 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 1,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 1,3% secara tahunan.
Namun, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, penjualan eceran pada September justru diprakirakan mengalami penurunan sebesar 2,3%.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kondisi penjualan dapat terlihat meningkat secara tahunan, tetapi mengalami tekanan dalam periode yang lebih pendek.
Perlu dipahami bahwa data tersebut merupakan gambaran penjualan retail secara agregat, bukan berarti seluruh UMKM mengalami pertumbuhan atau penurunan yang sama.
Sebuah pusat perbelanjaan mungkin masih ramai, tetapi tidak semua tenant memperoleh jumlah transaksi yang meningkat. Begitu juga dengan bisnis makanan, ketika sebagian restoran mendapatkan lebih banyak customer, pedagang lain mungkin justru menghadapi penurunan penjualan.
Karena itu, kondisi ekonomi nasional dan pengalaman pelaku usaha di lapangan perlu dilihat sebagai dua informasi yang saling melengkapi.
Pertumbuhan ekonomi dapat menunjukkan aktivitas bisnis yang masih berjalan, tetapi belum tentu menjelaskan tekanan biaya dan keuntungan yang dialami perusahaan secara individual.
Customer Semakin Berhitung Sebelum Mengeluarkan Uang
Salah satu tantangan yang dihadapi pelaku UMKM adalah perubahan perilaku belanja masyarakat.
Ketika kebutuhan hidup meningkat, sebagian customer mungkin menjadi lebih selektif dalam menentukan pengeluaran.
Barang dan layanan yang sebelumnya dibeli secara rutin bisa mulai dikurangi frekuensinya. Konsumen juga dapat memilih produk alternatif dengan harga lebih terjangkau atau menunda pembelian yang dianggap belum mendesak.
Bayangkan sebuah kedai kopi yang sebelumnya memiliki banyak pelanggan tetap.
Customer yang biasanya membeli kopi hampir setiap hari mungkin mulai mengurangi kunjungan menjadi beberapa kali dalam seminggu.
Dari sisi kedai, tidak selalu terjadi perubahan besar pada kualitas produk maupun pelayanan. Namun, perubahan kecil dalam kebiasaan pelanggan dapat berdampak pada total penjualan.
Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia pada September 2026, Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di level optimistis sebesar 118,1.
Meski demikian, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini menurun dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September.
Data tersebut menunjukkan bahwa keyakinan konsumen secara keseluruhan masih terjaga, tetapi penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini mengalami sedikit penurunan.
Hal ini tidak secara langsung membuktikan bahwa seluruh masyarakat mengurangi belanja. Namun, temuan tersebut dapat menjadi konteks untuk memahami mengapa sebagian bisnis menghadapi customer yang lebih berhati-hati.
Bagi UMKM, perubahan perilaku tersebut menimbulkan tantangan baru.
Perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan jumlah pelanggan yang pernah membeli, tetapi juga perlu memahami frekuensi transaksi, produk yang paling diminati, serta perubahan kebutuhan customer.
Dengan memahami perilaku pembelian, bisnis dapat menyesuaikan strategi tanpa harus selalu mengandalkan diskon untuk mempertahankan penjualan.
Biaya Operasional Terus Berjalan Meski Penjualan Menurun
Ketika penjualan sedang melambat, tidak semua pengeluaran bisnis dapat langsung dikurangi.
Sebuah restoran tetap harus membayar sewa tempat, listrik, gaji karyawan, dan kebutuhan operasional lainnya meskipun jumlah pengunjung berkurang.
Begitu juga dengan toko retail yang masih harus menyediakan persediaan produk dan menjalankan kegiatan operasional setiap hari.
Permasalahan menjadi semakin berat ketika biaya bahan baku, logistik, atau energi ikut meningkat.
Menurut Badan Pusat Statistik, inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan.
Sementara itu, Indeks Harga Perdagangan Besar atau IHPB Umum Nasional mengalami kenaikan sebesar 6,76% dibandingkan September 2025.
Indikator tersebut memiliki cakupan dan metode pengukuran berbeda, sehingga tidak dapat langsung dibandingkan sebagai besarnya kenaikan biaya yang dialami setiap usaha.
Namun, keduanya memberikan gambaran bahwa perubahan harga tetap menjadi faktor penting dalam aktivitas ekonomi.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia atau APPBI juga telah memperingatkan adanya potensi kenaikan harga barang pada kuartal IV 2026 akibat meningkatnya biaya energi, logistik, bahan baku, serta pengaruh nilai tukar terhadap barang impor.
Bagi pelaku UMKM, kondisi tersebut dapat menciptakan dilema.
Menaikkan harga jual mungkin diperlukan untuk mempertahankan keuntungan. Namun, ketika customer sedang lebih berhati-hati dalam berbelanja, penyesuaian harga juga berisiko memengaruhi jumlah pembelian.
Sebaliknya, mempertahankan harga tanpa menghitung perubahan biaya dapat membuat margin keuntungan semakin kecil.
Karena itu, perusahaan perlu memahami struktur pengeluaran bisnis secara lebih terperinci.
Bukan hanya mengetahui jumlah uang yang dikeluarkan, tetapi juga memahami komponen biaya mana yang meningkat dan seberapa besar pengaruhnya terhadap keuntungan.
Omzet Masih Ada, tetapi Keuntungan Bisa Semakin Tipis
Salah satu kondisi yang sering membuat pemilik bisnis kesulitan memahami keadaan usahanya adalah ketika penjualan masih berjalan, tetapi uang yang tersisa semakin sedikit.
Misalnya, sebuah usaha makanan memiliki omzet Rp30 juta per bulan.
Sebelumnya, total biaya bahan baku, tenaga kerja, sewa, dan operasional mencapai Rp24 juta, sehingga bisnis memiliki keuntungan sebesar Rp6 juta.
Namun, ketika biaya bahan baku dan pengeluaran lainnya meningkat menjadi Rp28 juta sementara omzet tetap, keuntungan yang tersisa turun menjadi Rp2 juta.
Angka tersebut merupakan ilustrasi sederhana, tetapi menunjukkan bagaimana bisnis dapat mengalami penurunan keuntungan tanpa harus mengalami penurunan omzet.
Permasalahan serupa dapat terjadi ketika perusahaan memberikan terlalu banyak diskon untuk mempertahankan customer.
Penjualan mungkin terlihat meningkat dari sisi jumlah transaksi, tetapi potongan harga dan biaya promosi dapat mengurangi margin yang diterima.
Di sinilah pentingnya membedakan antara pendapatan, biaya, dan keuntungan.
Perusahaan perlu mengetahui harga pokok penjualan, biaya operasional, serta margin dari setiap kategori produk atau layanan.
Dengan informasi tersebut, pemilik bisnis dapat mengevaluasi apakah kenaikan biaya perlu direspons melalui penyesuaian harga, perubahan proses produksi, atau pengendalian pengeluaran.
Keputusan yang dibuat berdasarkan laporan keuangan juga membantu perusahaan menghindari tindakan yang hanya meningkatkan omzet, tetapi tidak memberikan keuntungan yang sebanding.
Persediaan yang Menumpuk Bisa Membuat Modal Sulit Berputar
Selain tekanan biaya, pengelolaan stok juga dapat memengaruhi kondisi keuangan UMKM.
Ketika bisnis sedang berkembang, membeli persediaan dalam jumlah besar mungkin dianggap sebagai langkah untuk memastikan barang selalu tersedia.
Namun, apabila permintaan menurun, sebagian produk dapat tersimpan lebih lama daripada yang diperkirakan.
Bayangkan sebuah toko fashion membeli banyak produk untuk memenuhi perkiraan permintaan menjelang musim tertentu.
Ketika penjualan ternyata lebih rendah, sebagian barang belum terjual meskipun toko masih harus membayar supplier dan kebutuhan operasional.
Akibatnya, modal usaha tertahan dalam bentuk persediaan.
Situasi tersebut dapat menjadi lebih berat apabila produk memiliki masa simpan terbatas atau mengalami penurunan nilai karena tren pasar berubah.
Karena itu, perusahaan perlu memahami perputaran stok dan membedakan produk yang cepat terjual dengan barang yang membutuhkan waktu lebih lama.
Pengelolaan persediaan yang terstruktur membantu bisnis mengetahui jumlah barang tersedia, produk yang paling diminati, serta kapan pembelian ulang perlu dilakukan.
Dengan informasi tersebut, perusahaan dapat mengurangi risiko pembelian yang tidak sesuai kebutuhan pasar.
Namun, mengurangi persediaan juga perlu dilakukan secara hati-hati agar bisnis tidak mengalami kekosongan barang pada produk yang memiliki permintaan tinggi.
Tujuannya bukan sekadar memiliki stok sesedikit mungkin, tetapi menjaga keseimbangan antara kebutuhan penjualan dan modal yang tersedia.
Akses Modal Menjadi Tantangan Ketika Bisnis Membutuhkan Dana Tambahan
Dalam pemberitaan KONTAN pada Oktober 2026, keterbatasan akses permodalan juga menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pelaku UMKM.
Bagi sebagian bisnis, kebutuhan modal tidak selalu berkaitan dengan rencana membuka cabang atau memperbesar usaha.
Modal tambahan terkadang diperlukan hanya untuk menjaga operasional tetap berjalan.
Misalnya, sebuah usaha katering mendapatkan pesanan dalam jumlah besar, tetapi harus membeli bahan baku dan membayar tenaga kerja sebelum menerima pelunasan dari customer.
Jika dana yang tersedia terbatas, perusahaan mungkin mengalami kesulitan memenuhi pesanan meskipun peluang penjualannya sudah ada.
Permasalahan serupa dapat terjadi pada bisnis yang memberikan termin pembayaran kepada pelanggan.
Penjualan sudah dilakukan, tetapi dana belum diterima ketika perusahaan harus membayar kewajiban operasional.
Karena itu, pengelolaan arus kas menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Perusahaan perlu mengetahui berapa dana yang tersedia, pembayaran apa yang akan jatuh tempo, serta kapan piutang customer diperkirakan diterima.
Selain itu, pencatatan transaksi dan laporan keuangan yang rapi dapat membantu pelaku usaha menyiapkan informasi ketika membutuhkan pembiayaan.
Namun, laporan keuangan yang lengkap tidak otomatis menjamin pengajuan modal disetujui karena lembaga pembiayaan tetap memiliki proses dan persyaratan penilaian tersendiri.
Dengan pengelolaan keuangan yang lebih terstruktur, pemilik usaha setidaknya memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan dana dan kemampuan bisnis untuk memenuhi kewajibannya.
Mengurangi Biaya Tidak Selalu Berarti Mengurangi Karyawan
Ketika kondisi bisnis sedang sulit, salah satu respons yang mungkin dipertimbangkan perusahaan adalah menekan biaya operasional.
Namun, pengurangan biaya tidak selalu harus dimulai dengan mengurangi tenaga kerja.
Sebelum mengambil keputusan tersebut, perusahaan perlu memahami apakah masih terdapat pekerjaan yang dapat disederhanakan atau pengeluaran yang dapat dikelola lebih efisien.
Misalnya, sebuah bisnis memiliki beberapa karyawan yang secara rutin harus membuat laporan manual, memindahkan data transaksi, dan mencocokkan informasi dari berbagai aplikasi.
Aktivitas tersebut tetap membutuhkan waktu meskipun tidak secara langsung menghasilkan penjualan.
Perusahaan dapat mengevaluasi apakah proses pencatatan dan koordinasi dapat dibuat lebih sederhana sehingga karyawan memiliki lebih banyak waktu untuk pekerjaan utama.
Hal serupa berlaku pada pengaturan shift.
Sebuah restoran mungkin memiliki jumlah pengunjung yang berbeda antara pagi, siang, dan malam.
Dengan memahami pola transaksi dan kebutuhan pelayanan, manager dapat menyusun jadwal kerja yang lebih sesuai dengan kondisi operasional.
Namun, efisiensi tetap perlu mempertimbangkan keselamatan, hak karyawan, serta kualitas pelayanan yang diharapkan customer.
Tujuan pengelolaan biaya bukan hanya membuat pengeluaran menjadi lebih kecil, tetapi memastikan sumber daya perusahaan digunakan secara tepat.
Dengan cara tersebut, bisnis dapat meningkatkan efisiensi tanpa langsung mengorbankan kualitas operasional.
Mempertahankan Customer Lama Bisa Menjadi Bagian dari Strategi Bertahan
Ketika penjualan melambat, banyak bisnis berusaha mendapatkan customer baru melalui promosi, iklan, dan potongan harga.
Strategi tersebut dapat membantu memperluas pasar, tetapi perusahaan juga perlu memperhatikan hubungan dengan pelanggan yang sudah pernah melakukan pembelian.
Customer lama memiliki pengalaman berinteraksi dengan bisnis dan mungkin sudah mengenal kualitas produk maupun layanan yang ditawarkan.
Namun, hubungan tersebut tetap perlu dijaga.
Misalnya, sebuah usaha laundry memiliki pelanggan yang sebelumnya rutin menggunakan layanan setiap minggu.
Ketika pelanggan tersebut mulai jarang melakukan transaksi, perusahaan dapat mencoba memahami apakah penyebabnya berkaitan dengan harga, kualitas pelayanan, perubahan kebutuhan, atau munculnya pilihan lain.
Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan pendekatan yang lebih relevan.
Bagi bisnis retail, riwayat pembelian juga dapat membantu memahami kategori produk yang diminati customer.
Sementara itu, pada bisnis jasa, catatan komunikasi dapat membantu tim mengetahui kebutuhan pelanggan tanpa harus meminta informasi yang sama secara berulang.
Namun, strategi mempertahankan customer tidak seharusnya hanya berfokus pada memberikan diskon.
Kecepatan pelayanan, kualitas produk, konsistensi komunikasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah juga dapat memengaruhi keputusan pelanggan untuk kembali.
Dengan pengelolaan hubungan customer yang lebih baik, perusahaan dapat membangun peluang repeat order tanpa sepenuhnya bergantung pada promosi harga.
Bisnis Perlu Beradaptasi Berdasarkan Data, Bukan Sekadar Perkiraan
Dalam kondisi ekonomi yang penuh perubahan, pemilik UMKM sering dihadapkan pada berbagai keputusan penting.
Apakah harga perlu dinaikkan? Produk mana yang harus diprioritaskan? Pengeluaran apa yang dapat dikurangi? Dan apakah bisnis masih memiliki kemampuan untuk memperluas pasar?
Keputusan tersebut akan lebih sulit diambil apabila perusahaan tidak memiliki informasi operasional dan keuangan yang jelas.
Misalnya, ketika penjualan menurun, pemilik usaha mungkin langsung beranggapan bahwa seluruh produk mengalami penurunan permintaan.
Padahal, setelah diperiksa, mungkin hanya beberapa kategori yang mengalami perlambatan, sementara produk lainnya masih menunjukkan performa stabil.
Begitu juga ketika keuntungan mengecil.
Penyebabnya tidak selalu berasal dari rendahnya omzet. Bisa jadi terdapat kenaikan biaya supplier, pengeluaran promosi yang terlalu besar, atau persediaan yang tidak bergerak.
Karena itu, perusahaan perlu menghubungkan informasi penjualan, persediaan, pengeluaran, dan keuangan agar dapat memahami kondisi bisnis secara lebih menyeluruh.
Pendekatan tersebut juga membantu pemilik usaha membedakan masalah yang membutuhkan perubahan strategi dengan persoalan operasional yang dapat diperbaiki melalui pengelolaan internal.
Walaupun sistem pengelolaan yang baik tidak dapat menghilangkan seluruh tekanan ekonomi eksternal, informasi yang akurat membantu perusahaan merespons perubahan dengan lebih terarah.
Pada akhirnya, kemampuan beradaptasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan mengambil keputusan, tetapi juga seberapa baik bisnis memahami kondisi yang sedang dihadapi.
Kolabo: Membantu UMKM Mengelola Bisnis di Tengah Tantangan Ekonomi
Ketika bisnis menghadapi penjualan yang tidak stabil dan biaya operasional yang meningkat, perusahaan membutuhkan informasi yang jelas untuk memahami kondisi usaha serta menentukan prioritas pekerjaan.
Kebutuhan tersebut dapat didukung melalui Kolabo, sebuah Business Operating System yang menghadirkan berbagai kebutuhan pengelolaan bisnis dalam satu ekosistem.
Melalui Kolabo Accounting, perusahaan dapat mengelola pencatatan transaksi, jurnal, invoice, piutang, utang usaha, serta laporan keuangan secara lebih terstruktur.
Fitur Profit & Loss membantu pemilik bisnis melihat pendapatan dan biaya yang tercatat untuk mengevaluasi keuntungan perusahaan.
Sementara itu, Budgeting dapat digunakan untuk membantu merencanakan dan mengendalikan pengeluaran sesuai kebutuhan operasional.
Kolabo Accounting juga menyediakan pengelolaan Account Receivable dan Account Payable untuk membantu perusahaan memantau tagihan customer serta kewajiban pembayaran kepada supplier.
Dengan pencatatan yang lebih terorganisir, pemilik usaha memiliki dasar informasi untuk memahami pengeluaran, memeriksa kondisi keuangan, dan merencanakan kebutuhan dana operasional.
Untuk bisnis retail dan F&B, Kolabo POS membantu mengelola transaksi kasir, data produk, persediaan barang, dan aktivitas penjualan.
Melalui Inventory Management, perusahaan dapat memantau jumlah stok, mengelola SKU, mencatat pergerakan barang, hingga melakukan Stock Opname.
Fitur tersebut dapat membantu pelaku UMKM memahami kondisi persediaan dan mengurangi ketergantungan pada perkiraan ketika menentukan kebutuhan pembelian barang.
Bagi bisnis yang memiliki beberapa outlet, pengelolaan cabang juga membantu perusahaan mengorganisir aktivitas penjualan berdasarkan lokasi operasional.
Dari sisi hubungan pelanggan, Kolabo CRM menyediakan Customer Database, Deal Pipeline, Quotation, serta Notes untuk membantu tim sales mengelola informasi dan perkembangan peluang penjualan.
Kolabo juga menghadirkan WhatsApp Force yang mendukung pengelolaan komunikasi customer melalui WhatsApp dengan penggunaan oleh beberapa admin atau anggota tim.
Melalui informasi customer dan riwayat interaksi, perusahaan memiliki sarana untuk memahami kebutuhan pelanggan serta mengorganisir aktivitas follow-up secara lebih terstruktur.
Selain itu, Kolabo HRM membantu perusahaan mengelola data karyawan, absensi, jadwal shift, payroll, serta KPI.
Fitur Shift Management dapat mendukung pengaturan jadwal kerja berdasarkan kebutuhan operasional, sementara pengelolaan KPI membantu perusahaan mengevaluasi performa sesuai indikator yang ditentukan.
Untuk kebutuhan koordinasi, Kolabo Project & Task Management memungkinkan perusahaan membagikan pekerjaan, menetapkan PIC dan deadline, serta memantau perkembangan tugas melalui Dashboard dan Kanban.
Fitur Recurring Task, Checklist, dan Timesheet juga dapat membantu mengorganisir pekerjaan rutin serta mencatat waktu yang digunakan dalam aktivitas tim.
Sebagai contoh, sebuah bisnis kuliner yang mengalami kenaikan biaya bahan baku dapat menggunakan Kolabo Accounting untuk mengevaluasi pengeluaran, Kolabo POS untuk memeriksa penjualan dan stok, serta Kolabo HRM untuk mengelola jadwal kerja sesuai kebutuhan operasional.
Dengan berbagai modul tersebut, perusahaan memiliki sarana untuk mengelola aktivitas keuangan, penjualan, karyawan, dan pekerjaan dalam satu ekosistem.
Namun, penggunaan teknologi tetap membutuhkan pencatatan yang konsisten, evaluasi manajemen, dan strategi bisnis yang sesuai dengan kondisi perusahaan.
Kolabo tidak secara otomatis mengatasi lemahnya daya beli masyarakat atau kenaikan harga bahan baku. Sistem berperan membantu perusahaan memahami aktivitas internal dan mengelola proses operasional agar keputusan dapat dibuat berdasarkan informasi yang lebih terstruktur.
Dengan pendekatan tersebut, pelaku UMKM dapat membangun proses bisnis yang lebih terorganisir sekaligus mempersiapkan perusahaan menghadapi perubahan kebutuhan pasar.
Penutup
Keluhan sebagian pelaku UMKM yang merasa kondisi bisnis saat ini lebih sulit dibandingkan masa pandemi menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi tidak selalu dirasakan secara merata.
Kenaikan biaya operasional, perubahan perilaku customer, keterbatasan modal, dan tekanan terhadap keuntungan dapat terjadi secara bersamaan.
Pemberitaan KONTAN pada Oktober 2026 menggambarkan bagaimana sebagian pedagang menghadapi penurunan aktivitas belanja ketika pengeluaran usaha terus meningkat.
Sementara itu, data Bank Indonesia menunjukkan bahwa penjualan retail secara agregat masih tumbuh secara tahunan, meskipun terdapat fluktuasi dalam periode bulanan.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya memahami persoalan bisnis secara lebih menyeluruh, tanpa menganggap seluruh UMKM menghadapi keadaan yang identik.
Bagi pelaku usaha, strategi bertahan tidak cukup hanya dilakukan dengan meningkatkan penjualan.
Perusahaan juga perlu memahami struktur biaya, menjaga perputaran persediaan, mengelola arus kas, mempertahankan hubungan customer, serta menggunakan sumber daya operasional secara lebih efisien.
Melalui Kolabo, kebutuhan Accounting, POS, CRM, HRM, dan Project & Task Management dapat dikelola dalam satu ekosistem untuk membantu UMKM menjalankan proses bisnis yang lebih terstruktur.
Dengan pencatatan dan evaluasi yang konsisten, perusahaan memiliki informasi yang lebih baik untuk menentukan langkah di tengah kondisi pasar yang terus berubah.
Karena pada akhirnya, tantangan terbesar UMKM bukan hanya bagaimana tetap mendapatkan penjualan ketika kondisi ekonomi sulit, tetapi bagaimana menjaga agar bisnis tetap sehat, mampu beradaptasi, dan memiliki ruang untuk terus berkembang.
Kolabo — Satu Ekosistem untuk Menjalankan Bisnis.
