Kolabo Insights

Kolabo

Manage your company in one app

AI Ubah Cara Kerja di Asia, Apa Dampaknya?

Artificial Intelligence atau AI mulai mengubah cara perusahaan bekerja di berbagai negara Asia. AI tidak lagi hanya digunakan perusahaan teknologi. Penggunaannya mulai masuk ke customer service, administrasi, keuangan, pemasaran, software development, analisis data, kesehatan, manufaktur, sampai aktivitas kerja sehari-hari.

Karena itu, pertanyaan mengenai AI juga mulai berubah. Bukan lagi sekadar, “Apakah AI akan menggantikan manusia?”

Pertanyaan yang semakin relevan adalah: pekerjaan seperti apa yang akan berubah karena AI, siapa yang bisa memanfaatkannya untuk bekerja lebih efektif, dan siapa yang berisiko tertinggal karena cara kerjanya tidak ikut berkembang?

International Labour Organization (ILO) memperkirakan sekitar 22,9% tenaga kerja di ASEAN atau hampir 80 juta pekerja berada dalam pekerjaan yang memiliki lebih dari tingkat minimal paparan terhadap Generative AI. Namun, hanya sekitar 3,3% tenaga kerja ASEAN yang berada pada kategori paparan tertinggi. ILO juga menekankan bahwa sejauh ini belum terlihat bukti terjadinya kehilangan pekerjaan secara besar-besaran akibat GenAI.

Artinya, perubahan besar yang sedang terjadi bukan hanya soal pekerjaan yang hilang, tetapi bagaimana isi pekerjaan itu sendiri mulai berubah.

AI Lebih Banyak Mengubah Pekerjaan daripada Langsung Menghilangkannya

Ketika AI mulai berkembang cepat, kekhawatiran terbesar adalah teknologi ini akan mengambil alih pekerjaan manusia. Namun, kondisi di lapangan terlihat lebih kompleks.

ILO dalam studi globalnya pada 2025 menemukan bahwa sekitar satu dari empat pekerja dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap Generative AI. Meski begitu, kemungkinan yang lebih besar adalah pekerjaan tersebut mengalami transformasi, bukan langsung hilang seluruhnya.

Hal ini terjadi karena sebuah pekerjaan biasanya terdiri dari banyak tugas.

Beberapa tugas mungkin bisa dilakukan AI, sementara tugas lainnya tetap membutuhkan kemampuan manusia seperti mengambil keputusan, memahami konteks, berkomunikasi, bernegosiasi, membangun hubungan, sampai menangani situasi yang tidak terduga.

Karena itu, dampak AI tidak selalu berarti satu pekerjaan hilang sepenuhnya. Yang lebih mungkin terjadi adalah sebagian aktivitas di dalam pekerjaan tersebut mulai diotomatisasi.

Pekerjaan Repetitif Jadi yang Paling Terasa Dampaknya

Jenis pekerjaan yang paling cepat merasakan perubahan adalah pekerjaan dengan aktivitas yang terstruktur, berulang, dan sebagian besar dilakukan secara digital.

Contohnya seperti data entry, administrasi, bookkeeping, customer service tertentu, pekerjaan back office, sampai beberapa aktivitas dalam software development.

ILO mencatat pekerjaan clerical atau administratif masih termasuk kelompok pekerjaan yang paling terekspos oleh Generative AI. Kemampuan AI yang semakin berkembang juga mulai meningkatkan paparan pada profesi digital seperti web developer, multimedia developer, application programmer, analis keuangan, dan profesi teknis lainnya.

Fenomena ini cukup relevan untuk Asia karena kawasan ini memiliki industri jasa dan outsourcing yang besar Filipina menjadi salah satu contoh paling jelas.

Studi IMF terhadap pasar tenaga kerja Filipina menemukan sekitar sepertiga pekerja berada dalam pekerjaan dengan tingkat paparan AI yang tinggi. Business Process Outsourcing atau BPO—yang mencakup berbagai layanan seperti customer service dan back-office operation—menjadi salah satu sektor dengan proporsi pekerjaan berisiko displacement paling tinggi.

Meski demikian, paparan tinggi tidak selalu berarti pekerja langsung digantikan. Dalam penelitian yang sama, sekitar 61% pekerjaan yang memiliki paparan tinggi terhadap AI juga dianggap memiliki tingkat complementarity yang tinggi. Artinya, AI justru berpotensi membantu pekerja meningkatkan produktivitasnya daripada menggantikannya secara langsung.

Indonesia Juga Mulai Masuk dalam Perubahan Ini

Perubahan yang sama juga relevan untuk Indonesia. Menurut analisis ILO terhadap pasar tenaga kerja ASEAN, sekitar 21,7% pekerjaan di Indonesia memiliki lebih dari tingkat minimal paparan terhadap Generative AI.

Paparan terbesar terlihat pada jenis pekerjaan clerical support atau pekerjaan administratif. Hal ini terjadi karena banyak aktivitas seperti mengolah dokumen, memasukkan data, membuat rangkuman, menyusun laporan sederhana, atau memproses informasi sekarang semakin mudah dibantu oleh AI.

Namun, angka tersebut tidak berarti sekitar seperlima pekerjaan di Indonesia akan hilang. Paparan berarti sebagian aktivitas dalam pekerjaan tersebut memiliki potensi untuk dilakukan, dipercepat, atau dibantu menggunakan AI.

Di sinilah perbedaannya menjadi penting.

Orang yang tetap bekerja dengan cara lama mungkin membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan suatu tugas. Sementara orang lain dengan posisi yang sama bisa menggunakan AI untuk menyelesaikan pekerjaan awal lebih cepat, kemudian menggunakan waktunya untuk analisis, pengecekan, komunikasi, atau pengambilan keputusan.

Fresh Graduate Menghadapi Standar Masuk yang Berbeda

Perubahan ini juga mulai terasa pada pekerja entry-level dan fresh graduate.

Selama ini, pekerjaan level awal sering berisi aktivitas yang relatif terstruktur: menyiapkan laporan sederhana, mencari informasi, membuat dokumentasi, memasukkan data, melakukan pengecekan awal, membuat draft, atau mengerjakan bagian dasar dari proses yang lebih besar.

Justru aktivitas seperti inilah yang semakin mudah dibantu AI Studi ICRIER terhadap 651 perusahaan teknologi di India pada akhir 2025 hingga awal 2026 tidak menemukan bukti terjadinya kehilangan pekerjaan secara besar-besaran akibat GenAI. Namun, penelitian tersebut menemukan adanya moderasi hiring yang lebih terasa pada posisi entry-level.

Ini bukan berarti kesempatan bagi fresh graduate hilang. Standarnya yang berubah.

Perusahaan semakin membutuhkan orang yang tidak hanya mampu menjalankan instruksi dasar, tetapi juga mampu menggunakan teknologi untuk bekerja lebih cepat, mengevaluasi hasil AI, memahami konteks bisnis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan.

Di India sendiri, perubahan kebutuhan tenaga kerja juga terlihat dari semakin besarnya perhatian perusahaan terhadap skill AI, data, digital risk, dan teknologi lainnya. Skill menjadi semakin penting untuk menentukan kesiapan seseorang memasuki dunia kerja.

Punya AI Saja Tidak Otomatis Membuat Produktif

AI sekarang relatif mudah diakses. Banyak orang sudah menggunakan chatbot, AI assistant, generator gambar, AI coding tools, atau berbagai aplikasi berbasis AI lainnya.

Tetapi memiliki akses terhadap AI tidak otomatis membuat seseorang lebih produktif.

Perbedaannya ada pada bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam proses kerja.

AI bisa digunakan sekadar untuk membuat teks.

Tetapi AI juga bisa digunakan untuk mempercepat riset, menganalisis data, mencari pola, membuat draft pekerjaan, menyusun dokumentasi, membantu coding, merangkum meeting, sampai mempercepat pengambilan keputusan.

Asian Development Bank Institute juga menyoroti bahwa perubahan pasar tenaga kerja akibat AI meningkatkan kebutuhan terhadap kemampuan yang adaptif, termasuk digital literacy dan AI proficiency. Dengan kata lain, kemampuan bekerja bersama teknologi menjadi semakin penting dibanding hanya mengandalkan cara kerja tradisional.

Jadi, yang paling diuntungkan bukan sekadar orang yang “punya AI”.

Tetapi orang yang tahu bagian pekerjaan mana yang bisa dipercepat dengan AI, bagian mana yang harus tetap dikontrol manusia, dan bagaimana hasilnya bisa digunakan untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.

Perusahaan Juga Harus Beradaptasi

Perubahan akibat AI tidak hanya menjadi urusan karyawan. Perusahaan juga perlu berubah. Memasukkan AI ke organisasi tanpa proses kerja yang rapi justru berpotensi menciptakan masalah baru.

Tim bisa menggunakan banyak tools berbeda, data tersebar di berbagai aplikasi, informasi sulit dilacak, dan setiap divisi memiliki proses kerja sendiri-sendiri. Padahal, semakin cepat teknologi berkembang, perusahaan membutuhkan fondasi operasional yang semakin terstruktur.

Data karyawan perlu terorganisir. Transaksi perlu tercatat. Aktivitas sales perlu terdokumentasi. Project perlu dapat dipantau. Approval perlu jelas. Laporan juga harus dapat diakses tanpa harus mengumpulkan data dari banyak tempat terlebih dahulu.

Dengan fondasi tersebut, teknologi baru seperti AI akan lebih mudah diterapkan karena perusahaan sudah memiliki proses dan data yang rapi.

Era AI Membutuhkan Sistem Bisnis yang Terhubung

World Bank melihat teknologi baru, termasuk AI dan otomatisasi, dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah permintaan terhadap tenaga kerja di kawasan East Asia dan Pacific.

Manfaatnya juga tidak otomatis dirasakan semua orang secara merata. Pekerja yang memiliki skill yang melengkapi teknologi cenderung lebih siap mendapatkan manfaat dibanding pekerja dengan aktivitas rutin yang lebih mudah diotomatisasi.

Hal yang sama berlaku untuk perusahaan Bisnis yang memiliki proses terstruktur akan lebih mudah mengadopsi teknologi baru.

Sebaliknya, jika data masih tersebar, laporan masih manual, koordinasi masih bergantung pada chat pribadi, dan informasi perusahaan sulit dilacak, penggunaan AI saja tidak akan otomatis membuat operasional menjadi efisien.

Karena itu, kesiapan menghadapi era AI tidak hanya berbicara tentang menggunakan teknologi terbaru. Bisnis juga membutuhkan sistem yang mampu mengikuti perubahan tersebut.

Kolabo: Membangun Fondasi Operasional Bisnis yang Lebih Terhubung

Di sinilah Kolabo hadir sebagai Business Operating System untuk membantu perusahaan mengelola operasional dalam satu ekosistem.

Kolabo menghubungkan berbagai kebutuhan bisnis seperti HRM, Accounting, CRM, Project Management, serta modul operasional lainnya sehingga informasi tidak harus dikelola secara terpisah-pisah.

Melalui Kolabo HRM, perusahaan dapat mengelola data karyawan, attendance, payroll, approval, hingga proses HR lainnya secara lebih terstruktur.

Kolabo Accounting membantu perusahaan mengelola transaksi, jurnal, invoice, hutang-piutang, laporan keuangan, dan berbagai proses pencatatan keuangan.

Sementara Kolabo CRM membantu tim sales mengelola pelanggan, pipeline, aktivitas follow-up, deal, quotation, hingga komunikasi pelanggan dengan proses yang lebih terdokumentasi.

Untuk aktivitas project, Kolabo Project & Task Management membantu perusahaan mengatur pekerjaan, task, progress, checklist, dan koordinasi antaranggota tim.

Dengan data dan proses kerja yang lebih terhubung, perusahaan memiliki fondasi yang lebih baik untuk beradaptasi terhadap perubahan teknologi berikutnya.

AI Tidak Hanya Mengubah Tools, tapi Cara Kerja

Perubahan terbesar dari AI mungkin bukan munculnya satu aplikasi baru. Yang berubah adalah ekspektasi terhadap cara seseorang bekerja.

Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam mungkin bisa diselesaikan lebih cepat. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan manual mulai dapat diotomatisasi.

Sementara kemampuan seperti analisis, komunikasi, kreativitas, pengambilan keputusan, dan pemahaman konteks menjadi semakin penting.

Bagi pekerja, tantangannya adalah bagaimana menjadikan AI sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan. Bagi perusahaan, tantangannya adalah bagaimana membangun proses kerja yang cukup rapi untuk memanfaatkan teknologi tersebut.

Karena pada akhirnya, persaingannya bukan hanya antara manusia dan AI. Tetapi antara orang dan perusahaan yang mampu beradaptasi dengan teknologi, dengan mereka yang tetap bekerja menggunakan cara lama.

Penutup

AI sedang mengubah cara kerja di Asia. Dampaknya mulai terlihat pada pekerjaan administratif, customer service, outsourcing, keuangan, teknologi, sampai berbagai pekerjaan entry-level.

Namun, perubahan ini tidak sesederhana AI menggantikan manusia. Banyak pekerjaan justru akan berubah karena sebagian tugasnya dibantu atau diotomatisasi oleh AI.

Karena itu, pekerja perlu meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi sebagai bagian dari proses kerja. Di sisi lain, perusahaan juga perlu membangun sistem operasional yang lebih terstruktur, terintegrasi, dan mudah beradaptasi.

Kolabo.id membantu bisnis menghubungkan HRM, Accounting, CRM, Project Management, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya dalam satu ekosistem.

Karena bisnis yang siap menghadapi era AI bukan hanya bisnis yang menggunakan AI, tetapi bisnis yang punya sistem kerja yang baik, data yang rapi, dan proses yang saling terhubung.

Lanjut Baca

Artikel lain dari blog Kolabo.