Kolabo Insights

Kolabo

Manage your company in one app

Karyawan Sudah Lembur Terus, Tapi Target Masih Meleset?

Di banyak perusahaan, lembur sering menjadi solusi ketika pekerjaan belum selesai atau target belum tercapai. Karyawan datang pagi, bekerja sepanjang hari, lalu melanjutkan tugas hingga malam demi mengejar deadline yang semakin dekat.

Sekilas, kondisi tersebut terlihat seperti bentuk dedikasi dan produktivitas. Semakin lama seseorang bekerja, semakin banyak waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas. Bahkan dalam beberapa lingkungan kerja, pulang lebih malam terkadang dianggap sebagai tanda bahwa seseorang bekerja lebih keras.

Namun, bagaimana jika karyawan sudah rutin lembur, tetapi target perusahaan tetap meleset?

Pekerjaan terus menumpuk, deadline bergeser, dan tugas yang seharusnya selesai justru membutuhkan waktu tambahan. Sementara itu, karyawan semakin kelelahan karena jam kerja yang terus bertambah.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana perusahaan mengukur produktivitas. Apakah seseorang benar-benar bekerja lebih efektif ketika menghabiskan waktu lebih lama di kantor? Atau justru ada persoalan dalam pembagian tugas, penetapan target, dan cara pekerjaan dikelola?

Jadi, pertanyaannya bukan hanya berapa lama karyawan bekerja, tetapi mengapa tambahan jam kerja tidak selalu menghasilkan peningkatan produktivitas yang sebanding?

Jam Kerja Lebih Panjang Belum Tentu Menghasilkan Pekerjaan Lebih Banyak

Salah satu anggapan yang cukup umum dalam dunia kerja adalah semakin banyak waktu yang digunakan untuk bekerja, semakin besar pula hasil yang dapat diselesaikan.

Secara sederhana, logika tersebut memang terdengar masuk akal. Jika seorang karyawan dapat menyelesaikan lima tugas dalam delapan jam, menambah waktu kerja mungkin dianggap dapat meningkatkan jumlah pekerjaan yang diselesaikan.

Namun, hubungan antara jam kerja dan produktivitas ternyata tidak sesederhana itu.

John Pencavel, ekonom dari Stanford University, melakukan penelitian mengenai hubungan antara waktu bekerja dan hasil produksi. Penelitian yang diterbitkan pada 2015 tersebut menggunakan data historis pekerja industri amunisi untuk memahami bagaimana output berubah ketika jam kerja bertambah.

Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara jam kerja dan produktivitas tidak selalu linear. Setelah melewati batas tertentu, tambahan waktu bekerja menghasilkan peningkatan output yang semakin kecil.

Artinya, seseorang mungkin masih dapat menyelesaikan pekerjaan tambahan ketika jam kerjanya diperpanjang, tetapi hasil yang diperoleh dari setiap jam berikutnya cenderung menurun.

Temuan tersebut memang berasal dari konteks pekerjaan industri, sehingga tidak dapat langsung digunakan sebagai ukuran produktivitas untuk seluruh jenis profesi. Namun, penelitian ini memberikan gambaran bahwa menambah jam kerja tidak selalu menjadi cara paling efektif untuk meningkatkan hasil.

Bayangkan seorang karyawan yang sudah menghabiskan delapan jam untuk mengolah data, menghadiri meeting, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan administratif.

Ketika ia diminta melanjutkan pekerjaan selama tiga jam berikutnya, waktu yang tersedia memang bertambah. Namun, kondisi fisik dan kemampuan berkonsentrasinya belum tentu sama seperti saat memulai pekerjaan.

Akibatnya, tugas yang biasanya dapat diselesaikan dengan cepat mungkin membutuhkan waktu lebih lama.

Inilah mengapa menambah jam kerja tidak selalu sama dengan meningkatkan kemampuan perusahaan menyelesaikan pekerjaan.

Kelelahan Bisa Membuat Pekerjaan Semakin Lama Selesai

Ketika seseorang bekerja dalam waktu panjang, tantangannya bukan hanya berkaitan dengan jumlah energi yang digunakan, tetapi juga kemampuan mempertahankan konsentrasi.

Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, analisis, komunikasi, maupun pengambilan keputusan sangat bergantung pada kondisi mental dan fisik karyawan.

Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), lembaga di bawah CDC Amerika Serikat, kelelahan akibat pekerjaan dapat memperlambat waktu reaksi, mengurangi konsentrasi, mengganggu ingatan jangka pendek, serta memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan.

Hal ini berarti karyawan yang bekerja lebih lama tidak selalu dapat mempertahankan kualitas hasil kerjanya pada tingkat yang sama.

Misalnya, seorang staf finance yang harus memeriksa ratusan transaksi menjelang akhir bulan. Karena pekerjaan belum selesai, ia melanjutkan proses pengecekan hingga malam.

Namun, ketika konsentrasi mulai menurun, risiko kesalahan input atau ketidaksesuaian pencatatan dapat meningkat. Jika kesalahan tersebut baru ditemukan keesokan harinya, tim justru harus menghabiskan waktu tambahan untuk melakukan pemeriksaan ulang.

Situasi serupa juga dapat terjadi pada pekerjaan desain, pengembangan software, pelayanan customer, hingga aktivitas operasional yang membutuhkan ketelitian.

International Labour Organization atau ILO pada 2023 juga menjelaskan bahwa jam kerja panjang secara umum berkaitan dengan produktivitas per jam yang lebih rendah. Sementara itu, pengaturan waktu kerja yang lebih baik dapat mendukung performa bisnis sekaligus keseimbangan kehidupan pekerja.

Artinya, ketika perusahaan terus menambah jam lembur tanpa mengevaluasi penyebab keterlambatan pekerjaan, solusi tersebut berpotensi menciptakan persoalan baru.

Karyawan menjadi lebih lelah, kemampuan berkonsentrasi menurun, dan pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan secara efisien justru membutuhkan waktu lebih panjang.

Seharian Terlihat Sibuk, Tetapi Apakah Pekerjaan Utama Benar-Benar Selesai?

Ada perbedaan antara terlihat sibuk dan menghasilkan pekerjaan yang berdampak terhadap target perusahaan.

Dalam operasional sehari-hari, karyawan tidak hanya mengerjakan tugas utama yang menjadi tanggung jawabnya. Mereka juga harus menghadiri meeting, membalas pesan, membuat laporan, mencari dokumen, menunggu persetujuan, hingga memberikan pembaruan pekerjaan kepada atasan.

Setiap aktivitas tersebut mungkin diperlukan. Namun, ketika jumlahnya terlalu banyak, waktu untuk menyelesaikan pekerjaan utama menjadi semakin terbatas.

Berdasarkan penelitian Microsoft pada 2025, sebanyak 80% responden tenaga kerja global melaporkan bahwa mereka kekurangan waktu atau energi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Microsoft juga menemukan bahwa pengguna Microsoft 365 dalam data aktivitas yang ditelitinya mengalami interupsi rata-rata setiap dua menit selama jam kerja inti melalui meeting, email, atau notifikasi.

Temuan tersebut menggambarkan bagaimana komunikasi yang terus berlangsung dapat memecah perhatian karyawan sepanjang hari.

Bayangkan seorang anggota tim yang sedang menyusun laporan penting. Sebelum pekerjaan selesai, ia harus menghadiri meeting mendadak. Setelah kembali, ada pesan yang membutuhkan respons, permintaan revisi dari departemen lain, serta pembaruan status tugas yang harus dikirimkan kepada manager.

Ketika seluruh aktivitas tersebut selesai, waktu kerja utama hampir berakhir, sementara laporan yang menjadi prioritas justru belum rampung.

Akhirnya, karyawan menggunakan waktu lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya menjadi fokusnya sejak awal.

Dalam situasi seperti ini, persoalannya bukan selalu karena karyawan kekurangan jam kerja, tetapi karena terlalu banyak waktu digunakan untuk aktivitas di luar pekerjaan utama.

Terlalu Banyak Mengurus Pekerjaan, Terlalu Sedikit Waktu untuk Menyelesaikannya

Fenomena tersebut juga terlihat dalam penelitian Asana pada 2023 terhadap 9.615 pekerja berbasis pengetahuan di enam negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Australia, Prancis, Jerman, dan Jepang.

Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata 58% waktu kerja responden dihabiskan untuk aktivitas yang disebut work about work.

Istilah ini menggambarkan berbagai aktivitas pendukung pekerjaan, seperti melakukan koordinasi, mencari informasi, menghadiri meeting yang tidak diperlukan, serta menyampaikan pembaruan status kepada anggota tim lainnya.

Artinya, sebagian besar waktu kerja responden justru tidak digunakan secara langsung untuk mengerjakan tugas utama yang membutuhkan keahlian mereka.

Asana juga menemukan bahwa responden memperkirakan perbaikan proses kerja dapat menghemat sekitar 4,9 jam setiap minggu.

Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tidak selalu membutuhkan penambahan waktu kerja. Dalam beberapa kondisi, memperbaiki koordinasi dan mengurangi aktivitas administratif yang tidak diperlukan justru dapat memberikan ruang lebih besar untuk menyelesaikan pekerjaan.

Misalnya, sebuah perusahaan mengelola pekerjaan hanya melalui grup WhatsApp. Pembagian tugas, perubahan deadline, permintaan revisi, dan laporan progres semuanya disampaikan melalui percakapan yang terus bertambah.

Ketika manager ingin mengetahui perkembangan sebuah proyek, ia harus menghubungi anggota tim satu per satu. Karyawan kemudian perlu menyiapkan pembaruan pekerjaan, mencari kembali instruksi sebelumnya, atau menjelaskan tugas yang sebenarnya sudah diselesaikan.

Proses seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika terjadi berulang kali, waktu yang digunakan dapat menjadi cukup besar.

Karena itu, perusahaan perlu mengevaluasi apakah aktivitas koordinasi yang dilakukan benar-benar membantu pekerjaan berjalan lebih cepat atau justru menambah beban administratif.

Target yang Tidak Jelas Bisa Membuat Tim Bekerja Tanpa Arah

Selain jam kerja dan aktivitas administratif, faktor lain yang dapat memengaruhi produktivitas adalah kejelasan target.

Perusahaan mungkin sudah menetapkan sasaran bulanan atau mingguan, tetapi belum tentu setiap karyawan memahami bagaimana target tersebut berkaitan dengan tanggung jawabnya.

Misalnya, sebuah tim sales diminta meningkatkan penjualan sebesar 20% dalam satu bulan. Namun, tidak ada pembagian target yang jelas untuk setiap anggota, prioritas customer yang harus ditangani, atau evaluasi terhadap perkembangan pipeline.

Akibatnya, seluruh tim mungkin terlihat bekerja keras. Mereka menghubungi banyak prospek, menghadiri meeting, dan melakukan follow-up hingga di luar jam kerja.

Namun, aktivitas tersebut belum tentu menghasilkan perkembangan yang sesuai dengan target karena arah pekerjaannya tidak terstruktur.

Menurut Gallup, kejelasan mengenai apa yang diharapkan dari seseorang merupakan salah satu fondasi penting dalam pengelolaan kinerja.

Dalam pengukuran Gallup pada November 2024, hanya 45% karyawan di Amerika Serikat yang sangat setuju bahwa mereka mengetahui dengan jelas apa yang diharapkan dari pekerjaan mereka.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ketidakjelasan ekspektasi masih menjadi tantangan bagi banyak organisasi.

Ketika tujuan pekerjaan tidak dijelaskan secara spesifik, karyawan dapat kesulitan menentukan aktivitas mana yang harus diprioritaskan.

Mereka mungkin menyelesaikan banyak tugas, tetapi hasilnya tidak selalu memberikan kontribusi yang tepat terhadap sasaran perusahaan.

Karena itu, target tidak cukup hanya ditentukan melalui angka akhir. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa setiap anggota tim memahami tanggung jawab, prioritas, dan indikator keberhasilan pekerjaannya.

Apakah Beban Kerja Sudah Dibagikan Secara Merata?

Dalam sebuah tim, jumlah karyawan yang cukup belum tentu menjamin pembagian pekerjaan berlangsung secara efisien.

Ada kemungkinan sebagian anggota tim menangani terlalu banyak tugas, sementara karyawan lainnya memiliki kapasitas yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Situasi ini dapat terjadi ketika perusahaan tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai pekerjaan yang sedang ditangani setiap orang.

Misalnya, sebuah agency memiliki lima anggota tim kreatif. Seluruh pekerjaan diberikan berdasarkan siapa yang paling cepat merespons atau siapa yang dianggap paling mampu menyelesaikannya.

Akibatnya, satu atau dua karyawan terus menerima tugas tambahan karena dinilai memiliki performa terbaik.

Sementara itu, anggota tim lainnya mungkin tidak memperoleh pembagian pekerjaan yang seimbang.

Ketika deadline semakin dekat, karyawan yang memiliki beban tertinggi harus lembur untuk menyelesaikan seluruh tanggung jawabnya.

Padahal, apabila perusahaan dapat melihat kapasitas dan progres pekerjaan setiap anggota tim, sebagian tugas mungkin dapat dialokasikan lebih awal kepada orang lain yang memiliki waktu tersedia.

Masalah serupa juga dapat terjadi ketika beberapa tugas memiliki ketergantungan satu sama lain.

Sebuah pekerjaan mungkin tidak dapat dilanjutkan karena menunggu persetujuan, dokumen, atau hasil dari departemen lain. Ketika hambatan tersebut tidak segera diketahui, waktu pengerjaan akan terus berkurang.

Pada akhirnya, lembur digunakan untuk mengejar keterlambatan yang sebenarnya berasal dari masalah koordinasi.

Artinya, sebelum menambah jam kerja, perusahaan perlu memahami apakah distribusi tugas, kapasitas tim, dan alur pekerjaan sudah direncanakan dengan baik.

Mengukur Produktivitas Tidak Cukup dari Absensi dan Jam Lembur

Dalam pengelolaan karyawan, data kehadiran merupakan informasi penting untuk mengetahui kedisiplinan dan pemenuhan jam kerja.

Namun, kehadiran tidak selalu menggambarkan seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan atau bagaimana kualitas hasilnya.

Dua karyawan mungkin sama-sama hadir selama delapan jam. Salah satunya mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai target, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang karena menghadapi hambatan atau menangani tugas dengan tingkat kesulitan berbeda.

Jika perusahaan hanya melihat jumlah jam kerja, perbedaan tersebut akan sulit dipahami.

Hal yang sama berlaku pada lembur.

Karyawan yang mencatat jam lembur paling tinggi belum tentu memiliki produktivitas paling besar. Tambahan waktu bisa terjadi karena kebutuhan pekerjaan yang memang meningkat, tetapi juga dapat mencerminkan persoalan dalam perencanaan tugas, koordinasi, atau kapasitas tim.

Karena itu, evaluasi performa perlu mempertimbangkan beberapa informasi sekaligus.

Perusahaan dapat melihat target yang telah ditetapkan, progres pekerjaan, kualitas hasil, deadline, dan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan tugas.

Penggunaan Key Performance Indicator atau KPI membantu organisasi menentukan ukuran keberhasilan sesuai tanggung jawab setiap posisi. Sementara itu, pencatatan waktu pengerjaan atau Timesheet dapat memberikan gambaran mengenai alokasi waktu untuk berbagai aktivitas.

Namun, informasi tersebut perlu digunakan secara proporsional. Durasi pengerjaan tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung karena setiap pekerjaan memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda.

Tujuannya bukan sekadar mencari siapa yang paling cepat atau paling lama bekerja, melainkan memahami apakah pekerjaan berjalan sesuai rencana dan hambatan apa yang perlu diperbaiki.

Dengan begitu, perusahaan dapat mulai mengukur produktivitas berdasarkan hasil kerja yang relevan, bukan hanya jumlah waktu yang dihabiskan untuk bekerja.

Lembur Tidak Selalu Salah, Tetapi Tidak Seharusnya Menjadi Solusi Utama

Dalam praktik bisnis, ada situasi ketika tambahan jam kerja memang diperlukan.

Perusahaan mungkin menghadapi lonjakan pesanan musiman, kebutuhan operasional yang tidak terduga, pekerjaan mendesak, atau deadline tertentu yang membutuhkan dukungan tenaga kerja tambahan.

Dalam kondisi tersebut, lembur dapat menjadi bagian dari penyesuaian kapasitas operasional selama dilaksanakan sesuai ketentuan ketenagakerjaan dan memperhatikan kondisi karyawan.

Namun, situasinya berbeda ketika lembur mulai menjadi kebiasaan yang terjadi hampir setiap hari.

Jika pekerjaan rutin hanya dapat diselesaikan dengan tambahan jam kerja secara terus-menerus, perusahaan perlu mengevaluasi apakah terdapat persoalan yang lebih mendasar.

Mungkin target yang ditetapkan tidak sesuai dengan kapasitas tim. Bisa juga jumlah pekerjaan meningkat tanpa penyesuaian tenaga kerja, proses approval terlalu panjang, atau aktivitas administratif menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk tugas utama.

Dalam jangka panjang, persoalan ini juga berkaitan dengan kesehatan karyawan.

Berdasarkan penelitian bersama World Health Organization dan ILO yang dipublikasikan pada 2021, jam kerja setidaknya 55 jam per minggu diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 745.000 kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik secara global pada 2016.

Penelitian tersebut tidak secara langsung mengukur ketercapaian target perusahaan. Namun, temuannya memperlihatkan bahwa jam kerja yang sangat panjang memiliki risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.

Karena itu, perusahaan perlu membedakan antara lembur sebagai respons terhadap kebutuhan sementara dengan ketergantungan pada jam kerja tambahan untuk menjalankan operasional sehari-hari.

Ketika lembur menjadi solusi rutin, yang perlu dievaluasi bukan hanya jumlah jamnya, tetapi juga alasan mengapa pekerjaan terus membutuhkan waktu tambahan.

Bagaimana Membuat Tim Lebih Produktif Tanpa Terus Menambah Jam Kerja?

Meningkatkan produktivitas tidak selalu dimulai dengan meminta karyawan bekerja lebih cepat atau lebih lama.

Perusahaan justru perlu memahami bagaimana pekerjaan direncanakan, dibagikan, dijalankan, dan dievaluasi.

Langkah pertama adalah memastikan setiap target memiliki ukuran keberhasilan yang jelas. Karyawan perlu mengetahui hasil apa yang diharapkan, kapan pekerjaan harus selesai, serta aktivitas mana yang perlu diprioritaskan.

Selanjutnya, pembagian pekerjaan harus mempertimbangkan kapasitas dan tanggung jawab masing-masing anggota tim.

Manager perlu mengetahui siapa yang sedang menangani suatu tugas, berapa banyak pekerjaan yang masih berjalan, dan apakah terdapat hambatan yang dapat memengaruhi deadline.

Proses koordinasi juga perlu disederhanakan. Tidak semua perkembangan pekerjaan membutuhkan meeting tambahan atau laporan manual yang harus dibuat berulang kali.

Jika status tugas, progres, dan penanggung jawab dapat dipantau secara terorganisir, perusahaan dapat mengurangi kebutuhan untuk terus menanyakan informasi yang sama.

Selain itu, evaluasi perlu dilakukan sebelum pekerjaan mengalami keterlambatan terlalu jauh.

Ketika sebuah proyek mulai menunjukkan risiko tidak selesai sesuai jadwal, manager dapat meninjau penyebabnya, menyesuaikan prioritas, atau mendistribusikan kembali pekerjaan berdasarkan kapasitas yang tersedia.

Pendekatan ini membantu perusahaan mengambil tindakan berdasarkan kondisi aktual, bukan baru menambah jam lembur ketika deadline sudah hampir tiba.

Dengan pengelolaan yang lebih terstruktur, waktu kerja dapat digunakan secara lebih efektif dan karyawan memiliki kejelasan mengenai apa yang harus diselesaikan.

Kolabo: Membantu Bisnis Mengelola Waktu, Tugas, dan Produktivitas Karyawan

Memahami produktivitas karyawan membutuhkan informasi yang lebih lengkap daripada sekadar data kehadiran dan jumlah jam lembur.

Perusahaan juga perlu mengetahui bagaimana pekerjaan dibagikan, target yang harus dicapai, progres setiap tugas, serta waktu yang digunakan untuk menyelesaikannya.

Kebutuhan tersebut dapat didukung melalui Kolabo, sebuah platform bisnis terintegrasi yang membantu perusahaan mengelola aktivitas operasional dan sumber daya manusia dalam satu ekosistem.

Melalui Kolabo HRM, perusahaan dapat mencatat kehadiran, mengelola jadwal kerja, serta menjalankan pengajuan dan persetujuan lembur melalui sistem yang lebih terstruktur.

Informasi tersebut membantu bagian HR dan manajemen memantau aktivitas kehadiran serta administrasi jam kerja karyawan.

Sementara itu, fitur KPI dapat digunakan untuk membantu perusahaan menetapkan dan mengevaluasi indikator performa berdasarkan tanggung jawab masing-masing posisi.

Untuk pengelolaan pekerjaan sehari-hari, Kolabo Project & Task Management memungkinkan tugas dibagikan kepada anggota tim, dilengkapi dengan deadline, checklist, serta pemantauan progres melalui dashboard dan Kanban.

Fitur Timesheet juga membantu mencatat waktu yang digunakan dalam pengerjaan tugas, sehingga perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai alokasi waktu kerja pada berbagai aktivitas.

Dengan informasi tersebut, manager dapat memahami perkembangan pekerjaan tanpa harus terus meminta pembaruan secara manual kepada setiap anggota tim.

Ketika sebuah pekerjaan mengalami keterlambatan, perusahaan memiliki data yang dapat digunakan untuk meninjau progres, penggunaan waktu, dan pembagian tanggung jawab.

Tentu saja, penggunaan sistem tidak otomatis membuat seluruh target tercapai. Perusahaan tetap perlu menetapkan sasaran yang realistis, menjaga keseimbangan beban kerja, serta melakukan evaluasi terhadap kebutuhan tenaga kerja dan kondisi karyawan.

Namun, dengan pencatatan yang lebih terorganisir, manajemen memiliki dasar yang lebih jelas untuk memahami apakah persoalan produktivitas berasal dari waktu kerja, kapasitas tim, atau proses operasional yang perlu diperbaiki.

Penutup

Lembur memang dapat membantu perusahaan menyelesaikan pekerjaan tambahan dalam situasi tertentu. Namun, ketika karyawan terus bekerja lebih lama sementara target masih meleset, persoalannya mungkin tidak sesederhana kekurangan waktu.

Penelitian Stanford University menunjukkan bahwa tambahan jam kerja tidak selalu menghasilkan peningkatan output yang sebanding. Sementara itu, ILO menjelaskan bahwa jam kerja panjang secara umum berkaitan dengan produktivitas per jam yang lebih rendah.

Microsoft dan Asana juga memperlihatkan bagaimana komunikasi, koordinasi, dan pekerjaan administratif dapat menyita sebagian besar waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan tugas utama.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi karyawan, kejelasan target, pembagian tanggung jawab, hingga efektivitas proses kerja.

Karena itu, ketika target terus meleset, solusi yang dibutuhkan tidak selalu berupa tambahan jam lembur.

Perusahaan perlu memahami bagaimana pekerjaan dijalankan, apakah beban tugas sudah sesuai kapasitas, serta apakah setiap anggota tim memiliki informasi dan arahan yang cukup untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.

Melalui Kolabo, pengelolaan HRM, Overtime, KPI, Timesheet, serta Project & Task Management dapat dilakukan dalam satu ekosistem untuk membantu perusahaan memantau jam kerja sekaligus perkembangan tugas secara lebih terstruktur.

Dengan begitu, manajemen dapat mengevaluasi produktivitas berdasarkan informasi yang lebih menyeluruh, bukan hanya melihat siapa yang bekerja paling lama.

Karena pada akhirnya, produktivitas bukan tentang seberapa lama karyawan bekerja, tetapi seberapa efektif waktu, tenaga, dan sumber daya digunakan untuk mencapai hasil yang ditargetkan.

Kolabo — Satu Ekosistem untuk Menjalankan Bisnis.

Lanjut Baca

Artikel lain dari blog Kolabo.